Review Novel ‘Allegiant’ oleh Veronica Roth (#3 Divergent Trilogy)

2015-03-27 05.19.49

Allegiant – Abaikan buku yang lain.

Sudah lama rasanya saya tidak membaca novel lagi, terutama yang terjemahan. Ini buku keenam yang berhasil saya baca tuntas di tahun 2015, dari target-sok-saya di goodreads yakni 50 buku setahun *sigh*. Saya membaca novel ini selama 5 hari. Lumayan cepat jika saya bandingkan dengan kemampuan membaca saya dengan novel lain yang ketebalannya sama.

Kalau enggak salah harga novel ini 54ribu. Seingat saya dibeli dari Gramedia Solo bareng novel BUMI-nya Tere Liye. Dan entah karena apa saya baru tertarik membacanya setelah buku keduanya difilmkan. Betul, Insurgent.

Judul: Allegiant
Penulis: Veronica Roth
Penerbit: Mizan, Cetakan I Mei 2014
Penerjemah: Nur Aini dan Indira Briantri Asni
Tebal: 496 halaman
Penghargaan: New York Times Bestseller, Best Young Adult Fantasy and Science Fiction * Goodreads Choice Awards 2013.

Allegiant ini merupakan buku ketiga alias pamungkas dari trilogi Divergent. Ditulis oleh Veronica Roth, orang New York yang sepertinya tinggal di Chicago. Kata dia sih, nulis trilogi ini dimulai tahun 2011, waktu dia masih kuliah, dan trilogi ini menjadi debutnya di dunia literasi. Hebat. Begitu dipublikasi, langsung melejit dan mengangkat namanya sebagai penulis muda yang cerdas.

Kalau kamu sudah baca buku keduanya, Insurgent, atau sudah nonton filmnya, tentu tidak asing dengan Tris, Tobias, Christina, Caleb, Peter, Uriah, dkk-nya itu. Novel ini ditulis dari dua sudut pandang, Tris, lalu Tobias alias Four secara bergantian. Kadang agak aneh memang, ketika sudah membaca di pertengahan, kemudian kamu bingung ini yang cerita ternyata si Tobias, bukan Tris seperti dugaan kamu sebelumnya. Nah, ganti-ganti sudut pandang setiap bab memang sedikit mengganggu bagi saya. Kecuali Veronica menulis beberapa bab awal untuk Tris lalu berikutnya baru Tobias, sehingga mungkin agak sedikit mendukung konsentrasi dan feel saya.

Di novel Allegiant ini kamu akan diceritakan kelanjutan perjuangan Tris dan kawan-kawannya untuk menyelamatkan kota simulasi mereka, Chicago. Jika di Insurgent akhir ceritanya menggambarkan orang-orang yang berbondong-bondong keluar kota, dugaan kamu salah. Di novel Allegiant ini diceritakan bahwa kota telah dikuasai kelompok factionless, yang dalam sistemnya melarang orang-orang keluar kota dan justru memaksa mereka untuk tinggal, melanjutkan hidup dengan pemimpin baru. Lalu muncullah sekelompok pemberontak kecil yang membuat rencana keluar kota untuk menyelidiki apa yang sebenarnya berada di balik pagar kokoh pembatas kota mereka.

Apa yang mereka temukan di luar kota? Apakah memang hanya mereka manusia terakhir di bumi? Jawabannya ada di dalam novel ini. He-he.

Melalui Allegiant, Veronica menunjukkan kecerdasannya dalam menerapkan suatu metode penelitian laboratorium sederhana, dalam hal ini biologi, ke sebuah kehidupan manusia skala besar. Manusia diibaratkan sebagai objek eksperimen yang diberi perlakuan oleh peneliti sesuka mereka dengan dalih menyelamatkan gen manusia, untuk memperbaiki kehidupan. Simple idea but finally people worth it.

Novel ini bergenre fantasi, kata penerbitnya (mizan). Namun saya lebih suka menyebutnya dystopia. Ini saya kutipkan definisi dystopia atau distopia menurut wikipedia:

Distopia adalah masyarakat fiktif yang merupakan antitesis atau berlawanan dengan utopia. Masyarakat distopia umumnya hidup di bawah pemerintah yang totaliter atau otoriter, atau diawasi di bawah pengawasan sosial yang ketat dan menindas. Distopia biasanya terjadi pada masa depan bayangan atau sejarah alternatif, dan eksis akibat perbuatan manusia (merujuk kepada kesalahan yang dilakukan atau malah hanya merujuk kepada tindakan manusia yang sekadar berdiam diri dalam menghadapi masalah).

Cocok sekali dengan cerita dalam novel ini. Di goodreads, distopia pun sudah menjadi genre tersendiri. Jadi, tidak salah dong saya sebut novel ini bergenre distopia.

Jika diringkas, novel ini mengajarkan pada kita, melalui tokoh utama, Tris dan kawan-kawannya, tentang perjuangan, semangat, pengorbanan, cinta, kasih sayang, dan memaafkan. Dan sebagaimana novel pamungkas yang semestinya, novel ini memiliki bagian cerita yang mengguncang pembacanya, terutama penggemarnya yang sudah mengikuti jalan cerita dalam dua novel sebelumnya. Veronica Roth berani mengambil langkah tegas untuk ‘membunuh’ tokohnya. Bukan membunuh karakter yang saya maksud, tapi membunuh secara harfiah, yaitu menghilangkan nyawa. Padahal, pilihan seperti ini biasanya dihindari penulis, sebab akan mengecewakan pembaca yang sejak awal percaya bahwa tokoh ‘yang ini’ tidak akan mati alias hidup sampai akhir cerita, seperti misalnya Katniss pada buku terakhir The Mockingjay (Trilogy The Hunger Games). Namun, Veronica mengambil langkah besar itu, membunuh karakter dalam ceritanya, mungkin sebagian alasannya adalah untuk melawan arus mainstream penulis, sementara alasan yang lain, ia begitu percaya bahwa, ‘Pengorbanan yang sebenarnya adalah merelakan orang yang kamu cintai untuk mengorbankan dirinya sendiri’.

Penasaran siapa tokoh yang mati dalam Allegiant? Baca novelnya.

“Minggir, Katniss. Sekarang giliran Tris.” —USA Today.

Selamat membaca.

Iklan

51 thoughts on “Review Novel ‘Allegiant’ oleh Veronica Roth (#3 Divergent Trilogy)

  1. Gara berkata:

    Sepertinya novelnya keren :hehe. Mirip-mirip Hunger Games atau Maze Runner yak, dari segi setting dan genre. Oh ya, distopia begitu namanya :)). Saya belum pernah baca novelnya :hihi.
    Great review :)).

    Suka

  2. Ami berkata:

    Aku juga suka distopia..walaupun belum banyak baca buku bergenre itu…paling Fahrenheit 451. Kalau film vs novelnya mana yang lebih seru?

    Baca review novel seperti ini jadi ingat masa-masa berburu novel waktu masih ngekos di Padang, soalnya di sini belum ada Gramedia :mrgreen:

    Disukai oleh 1 orang

  3. joeyz14 berkata:

    Suka banget ini. Gara2 penasaran ama divergent dan udah nonton dua2nya ampe insurgent…jadilah 2 hari lalu aku beli allegiant. Dan belum kelar baca penasaran ama endingnya langsung loncat ke bab2 terakhir. Hahahaha

    Disukai oleh 1 orang

  4. Dessy berkata:

    Aq dh bca ampe allegiant mlh plus yg “four” asyik, seru, tp endingx sedih bgt
    Masa tris hrs mate’…inilah bedax novel luar, endingx suka2 penulis, g sesuai impian pembaca…maux tris n four hidup alias happy ending hadeeeh…#tepok jidat#**@#$#%

    Disukai oleh 1 orang

  5. Jamal berkata:

    Wah saya cuman baca sinopsis singkat aja di Wikipedia. Ternyata ibunya si Four itu yang akan jadi pengacau.

    Tapi ternyata di blog ini dikasih spoiler lagi akan ada ‘karakter’ yang mati.

    Wah tambah penasaran aja

    Disukai oleh 1 orang

  6. Repcurl berkata:

    Bagi saya, semuanya cukup berakhir di Insurgent aja.
    Alot bgt ini Allegiant, terkesan dipanjang2in, muter2 gak jelas.
    Saya juga kurang suka jika karakter utama harua dibuat tewas. Walopun si Vero maksudkan ada unsur cinta dan pengorbanan.
    But, ini terlalu mainstream
    hahaha. Vero, you’re a bitch.!
    😀

    Disukai oleh 1 orang

  7. ARANI berkata:

    entah mengapa saya tidak terlalu tertarik dengan allegiant, padahal saya penasaran endingnya dan ternyata tris mati. yasud ga jadi nonton filmnya karena udah sedih duluan 😥

    Suka

  8. Naqiya najah husna berkata:

    Saya sudah baca yang novel divergent dan insurgent, saya juga udah nonton filmnya. Penasaran sama yang selanjutnya, saya mau baca allegiant. Langsung buka ending, eh tris mati. Hancur dah hatiku. Gajadi dibaca. Untung cuman pinjaman. Tapi saya tetep semangat pingin nonton filmnya. Katanya di filmnya allegiant jadi 2? Allegiant sama ascendant. Saya juga udah baca novel “FOUR” yang ngisahin si tobias before become dauntless. Seru banget bagiku. Saya jadi pengen itu difilm kan. Untuk divergent series, emang mirip sama hunger games.kalo saya sih, mending dihabisin di insurgent aja. Karena kalo allegiant pendapat saya jadi gak nyambung sama novel pertamanya. Eh, ga nyadar saya ternyata jadi curhat :v. Salam kenal ya✌

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s