Last Writing 2019

Jika kamu pernah membaca beberapa tulisan di sini dan merasa kasihan dengan blog ini, saya juga. Ini adalah post ke 5 alias post terakhir di tahun 2019. Ok, di tahun 2019 saya memang tidak produktif (dalam hal menulis).

Lalu, kemana saya?

Tidak ada yang nanya, Mas.

Ok, tidak apa-apa aku memaksa.

Saya menulis ini di titik 0 km, di Jogja, di malam tahun baru. Saya tidak pulang kampung seperti kebanyakan teman saya. Saya memilih berada di sini, menikmati kesendirian, berbicara dengan diri sendiri lebih dalam. Baca lebih lanjut

Merdeka!

Merdeka dalam benak orang lain adalah bebas: bebas dari tuntutan tugas, bebas dari tekanan, bebas dari rutinitas.

Kita bisa memilih untuk ikut dengan orang lain atau membuat makna yang lebih baik.

Merdeka yang dimaknai oleh orang lain seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang salah. Hanya saja, hal itu secara tidak langsung telah mengkerdilkan makna Merdeka.

Baca lebih lanjut

Saya Sedih [#2]

Good Post.

Andik Taufiq

Bismillaah

gambar sedih

Saya sedih bukan hanya karena semakin maraknya begal dan tindakan kriminal seolah para pelakunya kehilangan akal. Melainkan saya juga sedih ketika kehidupan sosial semakin sarat dengan emosional, orang-orang menjadi bebal, dan hukum pun semakin tidak dikenal.

Saya sedih bukan hanya karena banyak geng motor berulah, menjadi raja jalanan semena-mena tidak ada yang mencegah. Melainkan saya juga sedih ketika penegak hukum gengsinya tidak mau kalah, menjadi preman jalanan, tidak lagi mengayomi malah menimbulkan masalah.

Saya sedih bukan hanya karena banyak anak muda yang gemar tawuran, menganiaya, bahkan menghilangkan nyawa temannya. Melainkan saya juga sedih ketika banyak media mengulasnya padahal justru memberikan inspirasi yang nyata.

Saya sedih bukan hanya karena dollar semakin bergengsi, rupiah terdegradasi, ekonomi kita seakan mengalami delusi. Melainkan saya juga sedih ketika riba justru diwajibkan melalui asuransi, pembentukan harga selalu diintervensi, sehingga mekanisme pasar terdistorsi.

Saya sedih bukan hanya karena orang-orang kita banyak yang latah, batu akik dianggap…

Lihat pos aslinya 174 kata lagi