Review Novel ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’

Ketemu lagi (lagi-lagi) dengan penulis novel ini: Tere Liye. Jangan bosan-bosan ya. Kalo bosan makanya kasih saya novel kamu buat di-review, 😀 .

Judul novel ini: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
Penulis: Tere Liye
Tebal: 264 halaman
Penerbit: GPU, Cetakan kedua Oktober 2010
Ratings: Me 3 of 5. Goodreads 3.92.

To be honest, saya tipe orang yang mudah mundur gara-gara kesan pertama kurang enak dari sebuah novel. Itu yang terjadi waktu saya baca novel Tere Liye ini. Dulu banget, pas masih baru novelnya. Novel ini kesimpen bersama novel lain yang belum saya baca di rumah. Lama setelah saya memutuskan untuk tidak membacanya, banyak teman-teman yang nanya sama saya, punya novel Tere Liye apa aja. FYI, anak-anak muda yang sedang masa cinta-cintaan dan doyan baca, pasti tahu Tere Liye. Mereka ibaratkan Tere Liye ini dokter cintanya anak muda. Lihatlah kutipan-kutipan yang dibuat penulis terkenal ini di jagat maya. Kece deh pokoknya.

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

Baca lebih lanjut

Iklan

Review Novel RINDU – Tere Liye

Hello from the other side!

Saya masih di sini. Masih jadi mahasiswa semester akhir. Ternyata jadi tua itu rasanya seperti ini ya? (*yang lebih tua siapin golok*) 😀 . Update dulu tentang perjalanan pendidikan daku yang berliku ini. Saya semester 9 (enggak perlu malu). Udah enggak kuliah. Kerjaannya ya revisi. Tanggal 4 Januari 2016 saya mau ujian seminar hasil penelitian kimia saya. Itu belum ujian akhir/pendadaran. Masih on going pendadarannya. Pengennya sih ikut wisuda bulan Maret 2016. Semoga, ya. Doakan dong. (Btw, hampir 5 tahun saya kuliah S1 ini. Kalo ibarat anak SD kelas 1, sekarang mau naik kelas 6. Yang dulu ingusan sekarang udah cinta-cintaan)

By the way, this time I’ll tell you about a book from Tere Liye, judulnya Rindu.

novel rindu tere liye

RINDU – Tere Liye

Baca lebih lanjut

Akhir dari Sebuah Program

IMG-20151124-WA0003

Saya yang mana? (Teman-teman PPL)

Saya menulis ini lantaran sadar bahwa ada banyak orang di luar sana yang ingin mencicipi kenangan, pengalaman, dan remeh-temeh dari kehidupan orang lain. Saya salah satunya. Saya selalu penasaran dengan apa yang kalian lakukan di tempat kalian. Bukan hanya sekadar lewat foto dan sekelumit kalimat pengantar saja, tapi dalam sebuah cerita utuh. Bedanya dengan Dementor, kalau Dementor menghisap kebahagiaan dan kegembiraan seseorang, saya hanya meminjam cerita kalian dalam bentuk kaset, lalu akan saya kembalikan sesudah saya tonton. *Ah, apalah* Baca lebih lanjut