Tidak Lolos Beasiswa LPDP: Tidak Apa-Apa

Saat ini saya memang menempuh pendidikan S2 dengan beasiswa LPDP. Tentu beberapa dari kalian bilang, “Lho, kan kamu lolos, Kak, tahu apa soal kegagalan?” Ok, be calm, sit back. Saya lolos beasiswa LPDP tahun 2018 dan pernah GAGAL mendapatkan beasiswa tsb di tahun 2017. So, from this you will see why these all make sense. Saya akan berbagi cerita kegagalan di tahun 2017 dan kenapa akhirnya lolos di tahun 2018.

2017 tidak lolos, 2018 lolos beasiswa LPDP

Meski tentu saja akan lebih valid jika yang berbicara tentang ini adalah panitia seleksi, namun tidak ada salahnya jika saya melihatnya dari sudut pandang saya pribadi.


Kenapa Kita Gagal Mendapatkan Beasiswa LPDP?

Jawaban: Persiapan Yang Kurang (Titik)

Ok, sebentar, jangan emosi karena saya bilang persiapan kurang. Apakah persiapan saya kurang? Apakah persiapanmu kurang? Kalau kamu melihatnya saat ini, kemungkinan jawaban YA sangat kecil. Tapi kalau kamu melihatnya setelah lebih dari 2 bulan (let me say that), kamu akan menyadarinya bahwa ada yang kurang dalam persiapanmu. Kamu hanya perlu menerima dulu dan akhirnya kamu akan menyadarinya. Tapi, kenapa harus menunggu 2 bulan untuk tahu hal itu jika kamu bisa mengetahuinya sekarang?

“Itu mungkin kamu, Mas, kalau aku kayaknya bukan karena itu. Aku tidak lolos karena pewawancaranya tidak suka sama aku.”

Ya, mungkin alasan ‘persiapan-kurang’ memang hanya berlaku untuk saya, dan MAYORITAS peserta yang gagal. Tidak lolos karena LPDP sistem penilaiannya buruk, pewawancara tidak kompeten, dll, dll itu mungkin ada tapi bukan penyebab utama peserta tidak lolos beasiswa. Jadi, saya tidak bicara hal minor tapi mayor, untuk cakupan yang lebih luas.

Apakah kamu lebih nyaman berada pada posisi: LPDP tidak adil padamu atau persiapanmu yang kurang?

Saya memilih yang kedua. Oke, memilih yang kedua memang susah diterima. Dulu saya begitu. You know, setelah tidak lolos LPDP, saya tidak lolos Pertamina, tidak lolos CPNS Kemenhumkan, tidak lolos CPNS Kemenperin, dan lain-lain di TAHUN YANG SAMA (sorry for this word). Hal itu membuat saya berpikir: apakah saya benar-benar ingin melanjutkan studi atau kerja kontrak saja?

Well, at the end, saya memutuskan melanjutkan studi karena apa yang saya peroleh di S1 sangat kurang (according to me). Dan saya ingin kuliah tidak dengan biaya sendiri karena saya tahu akan sangat susah nantinya dengan biaya sebesar itu.

Akhirnya saya benahi diri, saya cek apa yang kurang di seleksi beasiswa LPDP tahun 2017:

  1. Skor TOEFL, ok
  2. Essay, no
  3. Study plan, BIG NO
  4. Pemahaman terhadap diri pribadi, absolutely no

Menulis Essay

Menulis esay sangat tidak bagus jika hanya sekali duduk. Menulis essay yang cuma 2-3 paragraf bahkan bisa membutuhkan waktu hingga 1 bulan penuh (kata Maudy Ayunda) tergantung dengan tingkat perfeksionis seseorang. Menulis hari ini, tinggalkan seminggu, baca lagi, perbaiki, tinggalkan seminggu, dst sampai kita merasa itu yang terbaik. Kenapa harus jeda sampai seminggu? Sebenarnya tidak harus seminggu, bisa 3 atau 4 hari, tapi seminggu sangat efisien dalam membuat otak kita benar-benar lepas dari isi essay yang kita tulis, sehingga ketika membaca lagi, kita akan lebih mudah menemukan kesalahan dan ketidaksesuaian dengan apa yang kita inginkan.

Study Plan

Saya tidak memiliki cara lain dalam menulis study plan selain dari melihat rencana studi mereka yang telah kuliah di jurusan tujuan kita. Sehingga akan lebih baik, sebelum kamu menulis study plan, hubungi salah satu mahasiswa yang kuliah di jurusan tujuanmu, atau alumi, atau jika tidak bisa, sebisa mungkin buka website jurusanmu, cari apa yang akan kamu pelajari jika menjadi mahasiswa di sana.

Pemahaman Terhadap Diri Pribadi (Self-Esteem)

Orang lain bisa jadi lebih tahu tentang dirimu dibanding kamu sendiri. Orang lain itu mungkin orangtuamu, ibumu, ayahmu, kakak-adikmu, temanmu, pacarmu, suami atau istrimu. Jangan malu untuk bertanya tentang dirimu, misalnya: apa yang paling mereka suka darimu, apa yang paling tidak mereka sukai darimu, apa kelebihanmu, apa kelemahanmu, dll. Bersiaplah terkejut mendengar jawaban mereka. Dari jawaban itu, pertimbangkan untuk menjadi bahan refleksi diri, dan itulah yang sering keluar di tahap wawancara.

Setelah lolos tahap administrasi dan tes komputer, bacalah tulisan atau buku tentang pemahaman diri. Istilah “Jadilah dirimu sendiri” hanya berlaku untuk orang yang telah menemukan dirinya dan saya selalu menganggap diri sendiri belum menemukan diri sehingga saya selalu ‘mencuri’ cerita orang-orang sukses. Dengan mengetahui cerita orang-orang sukses, kamu akan menyadari bahwa ada hal-hal dalam dirimu yang mesti diperbaiki. Apakah dengan memperbaiki diri berdasarkan orang lain berarti tidak menjadi diri sendiri? No. Menurut saya, itu adalah proses menjadi diri sendiri yang sebenarnya. Mereka, orang-orang yang menjadi panutan kita karena kesuksesannya, telah melewati gagal dan bangkit berkali-kali, dan kita tidak perlu mengalami hal yang sama karena ada jalan pintas. Biarlah kita mengalami kegagalan khusus yang belum ada seorangpun gagal dalam hal itu.

Maaf jika tulisan ini sangat panjang. Stop here if you don’t enjoy.

“Saya sudah melakukan semua itu, Kak, tapi tidak lolos juga.”

Kamu hanya butuh waktu persiapan lebih lama, sedikit lebih lama dari apa yang telah kamu lewati kemarin. Kamu tidak sama dengan mereka. Jika mereka yang lolos bilang hanya butuh waktu persiapan sebulan sementara kamu 2 sampai 3 bulan saja tidak lolos, jangan kecil hati. Mereka mungkin telah melewati masa-masa sulit di masa lalu, dan yang kita lihat hanya permukaannya saja.

Kita mengalami kegagalan agar kita dapat belajar dan menjadi diri yang lebih baik di masa depan. Allah, Tuhan kita, memiliki rencana yang lebih besar di masa mendatang. Tugas kita hanya berusaha dan percaya bahwa masa itu pasti, pasti, dan pasti akan tiba. Seperti yang saya alami, saya tidak mendapatkannya tahun 2017, namun setahun kemudian Dia memberikan jawaban.

Satu tim dalam kelompok Pak-Pak saat Persiapan Keberangkatan Angkatan 129

Iklan

2 respons untuk ‘Tidak Lolos Beasiswa LPDP: Tidak Apa-Apa

  1. theschoolofmaster berkata:

    Tulisannya bagus kak. Kalau Misalnya studen plan itu untuk menjadi kepala desa, seperti apa?. Kalau ada pare yang di kenal kampung inggris. Apakah bisa dituliskan membuat kampung fisika, kalau tujuannya adalah menjadi kepala desa. Bagaimana kakak, sekali lagi terimah kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.