Tenggelam dalam Kesibukan

Fiuh, lega rasanya bisa buka blog ini lagi.

Masih sayang sama eke kan? Hehe *diborgol*

Sudah lama rasanya enggak blogwalking lagi. Mohon maklum buat yang belum terima kunjungan saya :).

Di semester penghujung seperti ini yang bikin saya sibuk cuma satu: Tugas Akhir –> Skripsi dan Seminar. Semoga temen-temen di sini rela dengar curhat dari saya.  Baca lebih lanjut

Cerpen: Menyontek

 

Ini cerpen yang kemarin saya janjikan mau diposting. Cerpen berjudul ‘Menyontek’ ini bisa juga kamu baca di Antologi terbitan de TEENS: ‘I’m Proud To Be Me’,  yang saya bahas di postingan yang ini. Oh, ini sedikit mencubit sedikit si Febri, soalnya dia juga nulis tentang hal yang serupa.

Panjang cerpen ini 1700 words. Lumayan panjang. Tapi untuk ukuran cerpen tergolong normal (8 halaman A4). Jadi kalau misalnya kamu bisa betah baca, silakan dibaca. Kalau tidak bisa baca tulisan panjang, ngomen aja di bawah, ye :). Selamat membaca, Agustus! Baca lebih lanjut

Bicara Tentang Ant-Man: Sebuah Keutuhan Keluarga

Posting lagi, dan lagi. Bulan agustus ini banyak sekali ide yang berseliweran di kepala minta dicurahkan dan dibagikan serta dibahagiakan. Mengadaptasi filosofinya mbak Windy Ariestanty, dia mengibaratkan ide seperti sesuatu yang hidup yang perlu dieksekusi alias dituang ke dalam tulisan. Kalau kalian tidak mengeksekusinya, berarti kalian kejam telah membunuhnya, sebab tidak ada yang menjamin ide itu akan muncul lagi suatu hari. Rasain kalo ntar pas lagi butuh-butuhnya, malah ide itu gak nongol, hihii.

Beberapa hari yang lalu saya dan kawan-kawan nonton Ant-Mant. Sebenarnya acara nonton ini udah out of plan. Udah agak basi, soalnya udah telat banget. Tapi gak papalah, berhubung ada yang beliin tiket, tetep jabanin dong. Sini kalau ada yang mau endorse saya buat nonton, haha (emang ada ya acara endorse macam ginian?). Baca lebih lanjut

Di Rumah VS Di Perantauan

Saya akan me-list apa saja yang bisa saya lakukan di rumah, dan jarang atau bahkan tidak bisa saya lakukan di perantauan alias di Solo, begitu juga sebaliknya.

Yang bisa saya lakukan di rumah, tapi tidak di perantauan:
1. Sholat di mushola. Haha, gaje banget ga? Emang kok, soalnya depan rumah saya ada mushola. Jadi sedari saya bocil sampe segede-dan-masih-bujang-ini *promosi* selalu disuruh sholat di mushola depan rumah. Sementara di Solo, saya jarang sekali sholat di tempat ibadah seperti masjid. Hehe, jangan sampe postingan ini dibaca orangtua saya.
2. Makan masakan Bapak atau Ibu. Ya iyalah.
3. Belanja di pasar!
4. Beli ikan mentah langsung dari nelayan
5. Beli kerang mateng buat disantep kalo malem
6. Ngajak kucing ibu saya jalan-jalan, main, sama nyariin gebetan buat dia, btw, namanya Vista tapi cowok.
7. Masak mie sendiri kalo semua orang di rumah udah pada tidur.
8. Main-main pasir di pantai. Pantainya bebas milih. Banyak bingit! Tirto Samudro, Kartini, Lebak, dll, termasuk pantai deket kediaman saya. Kalo mau main-main ke pulau juga bisa. Paling deket Pulau Panjang, naik perahu nelayan sampe. Paling jauh Karimunjawa. Dulu terakhir naik feri yang biasa, 6 jam terombang-ambing di tengah lautan *tak tahu arah jalan pulang… huwowowo.

pulau-kecil-karimunjawa

Salah satu destinasi wisata di Karimunjawa – Gambar nyolong dari sini.

Sementara itu pemirsa, inilah yang tidak bisa saya lakukan di rumah:
1. Makan ayam geprek sama ayam penyet. Di sekitar rumah entah kenapa ya ga ada yang jualan menu itu. Sepertinya di masa depan, sayalah yang kudu jualan di dekat rumah. Soalnya, di Solo, sepelemparan batu aja ada yang jual ayam mateng. Kalo bahasanya saya, mahasiswa tidak bisa hidup tanpa ayam. Dan kertas. Saking banyaknya yang jualan ayam versi apa aja bahkan ada yang versi kampus *ups* hehe. Dan tentu saja mahasiswa butuh kertas. Jadi kebutuhan pokok mahasiswa itu dua sodara-sodara: ayam dan kertas. Kertas buat ngerjain tugas dong.
2. Pilihan sosis di tempat rantau banyak banget.
3. Kalau mau nonton gampang, bisa di Solo Paragon, Grand Mall, The Park, Hartono Mall, atau SS. Mau belanja juga di situ aja (suka banget kalo diajak nemenin belanja baju. mana kamar pas? haha). Ssst, tapi saya jarang belanja di situ dong. Soalnya kan kebanyakan mehel. Tapi kalo ke Matahari-nya harganya mendingan sih. Seringnya ke distro, haha, anak muda banget ya (atau sekarang golongan tua juga ke distro? *eh ditampar*)
4. Bisa lihat banyak festival annual macem-macem. Ada SBC (Solo Batik Carnival), SIPA (Solo International Performing Arts), Festival Jajanan Solo, dan lain-lain (kayaknya cocok kalo saya jadi duta festive Solo, haha). Pokoknya yang rame pengunjungnya dan lebih memungkinkan buat nyari gebetan lah *eh, nelongso banget pak!*

5. Tempat nongkrongnya lebih banyak.
6. Banyak jalan searah.
7. Banyak tempat bersejarah yang bisa dikunjungi.
8. Bisa kuliah. Lha kampusnya di Solo, nde!

Seperti itulah pemirsa. Bisa dibilang, rumah bukan hanya bentuk fisik, tapi di manapun kamu merasa nyaman, itulah rumah *tunjuk hatimu* eeaaak! Kena deh.


Postingan ini disponsori oleh Kontrakan Baru! Yay, akhirnya saya punya kontrakan baru, baru pindah kemarin. Doakan nyaman ya. Iya, wong orang-orangnya juga sama. Mungkin biar nyaman sama suasana tetangga kanan-kiri.

“I’m Proud To Be Me” Sebuah Antologi

Selamat membaca lagi. Kali ini di bulan Agustus. Bulan agustus buat saya terasa menggembirakan. Karena: (1) jadi tahun ajaran baru; (2) jadi bulan syukuran nasional; (3) jadi bulan kompetisi (tentu saja akan banyak sekali lembaga yang menyelanggarakannya kan, siap-siap amunisi saja); dan (4) jadi bulan kelahiran bapak saya.

Beberapa waktu lalu, waktu liburan lebaran, saya mendapati buku berjudul ‘I’m Proud To Be Me’ ini di tumpukan novel-novel. Buku ini sudah tiba di rumah bulan april lalu kalau gak salah. Ini merupakan sebuah antologi bonus dari de TEENS (penerbit anakan dari divapress). Saya kurang tahu apakah buku ini bisa diperoleh di toko buku, sebab sepertinya dicetak terbatas.

I’m Proud To Be Me ini berisi 27 cerpen yang ditulis oleh remaja (usia 15-22), yang telah diseleksi oleh juri dalam event #Rebel withACause yang diselenggarakan oleh @KampusFiksi (divapress) di tahun 2014, diumumkan nomine-nya akhir mei 2014, dan terbit bulan maret 2015. Sayangnya informasi tentang itu sudah tidak termuat di website resmi divapress. Beberapa postingan lama memang kayaknya udah diarsipkan dan tidak di-publish atau visibility-nya sudah bukan buat public. Baca lebih lanjut