Review Novel Sili Suli: Surya, Mentari, dan Rembulan

Ini adalah novel kiriman yang mana saya belum tahu informasi apapun tentangnya hingga novel ini tiba di tangan saya bulan April lalu. Saya tidak menyangka akan membaca novel setebal 539 halaman ini. “Sepertinya novel ini dibuat dengan sungguh-sungguh,” pikir saya waktu pertama kali membuka bungkusnya. Dengan jumlah halaman setebal itu, tidak mungkin penulis mengorbankan waktu dan tenaganya hanya untuk membahas omong kosong. Dan memang sepengalaman saya membaca novel setebal kitab suci, jarang merasa kecewa. Selalu ada sesuatu di dalamnya. Namun, untuk novel ini barangkali lain karena menurut penulisnya, ini adalah novel perdana yang dia tulis.

novel sili suli surya mentari dan rembulan

Baca lebih lanjut

Berpikir Tentang Bencana Alam

Suatu hari saya mendengar seseorang berkata, “Kejadian itu sudah ditakdirkan oleh-Nya.”

Apakah pernyataan itu benar sepenuhnya?

Konteks kalimat, “Kejadian itu sudah ditakdirkan oleh-Nya,” mengandung penerimaan dan kepasrahan mutlak yang seolah tidak bisa diganggu-gugat. Kalimat itu menyuruh kita bungkam dan menerima kejadian yang memang tidak bisa kita hindari.

Saya lebih nyaman ketika mengucapkan, “Kejadian itu memang ditakdirkan oleh-Nya, tapi…”

Baca lebih lanjut

Merdeka!

Merdeka dalam benak orang lain adalah bebas: bebas dari tuntutan tugas, bebas dari tekanan, bebas dari rutinitas.

Kita bisa memilih untuk ikut dengan orang lain atau membuat makna yang lebih baik.

Merdeka yang dimaknai oleh orang lain seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang salah. Hanya saja, hal itu secara tidak langsung telah mengkerdilkan makna Merdeka.

Baca lebih lanjut

Dikenang Karena Tulisan

Kamu mungkin jarang merasakan kehilangan seseorang jika seseorang itu bahkan tidak pernah kau temui secara langsung. Namun, bagaimana jika seseorang itu adalah salah satu yang membuat sesuatu untuk kau nikmati?

Percayalah… Jika sesuatu-yang-kau-nikmati itu tiba-tiba berhenti menghampirimu, kau akan bertanya-tanya: Kemana dia? Kemana orang yang selalu membuat itu? Kau baru merasa kehilangan meski kau bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Namun, tulisan-tulisan yang dia tulis…, bukankah itu cukup sebagai representasi dari ketiadaan fisik seseorang?

Baca lebih lanjut

Review Film: Ready Player One (2018) – Film Nostalgia Angkatan 80-an

Sebelum berbicara tentang film Ready Player One ini, saya ingin membahas sedikit mengenai novelnya. Yoi, film ini diangkat dari novel yang terbit cetakan pertamanya pada tahun 2011. Dan tahukah kalian? Pada tahun yang sama, sang penulis Ernest Cline telah menyetujui proyek untuk pembuatan filmnya, tetapi produksi film baru dimulai tahun 2016.

Sayangnya, novel yang laris di luar Indonesia itu baru dibuat versi terjemahannya tahun 2018 oleh Gramedia! Sangat terlambat! Seandainya dibuat versi Indonesia sekitar tahun 2014 atau 2015 tentu akan menyamai hype novel The Hunger Games, Divergent, atau The Maze Runner. Saya tidak hendak mem-boo Gramedia karena sebenarnya kesalahan ada pada penulis novel itu sendiri. Penulis membuat jeda terlalu lama antara novel pertama dengan kedua. Ada novel kedua? Ada tapi belum terbit. Penulis hanya mengkonfirmasi sekitar bulan Desember 2017 lalu bahwa dia berencana menerbitkan novel kedua. Sepertinya dia menunggu bagaimana respons publik terhadap film yang dibuat dari novel pertamanya, film Ready Player One ini. Kali aja nemu ide baru, bisa tuh diselipin ke draft novelnya. Baca lebih lanjut