Merdeka!

Merdeka dalam benak orang lain adalah bebas: bebas dari tuntutan tugas, bebas dari tekanan, bebas dari rutinitas.

Kita bisa memilih untuk ikut dengan orang lain atau membuat makna yang lebih baik.

Merdeka yang dimaknai oleh orang lain seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang salah. Hanya saja, hal itu secara tidak langsung telah mengkerdilkan makna Merdeka.

Baca lebih lanjut

Dikenang Karena Tulisan

Kamu mungkin jarang merasakan kehilangan seseorang jika seseorang itu bahkan tidak pernah kau temui secara langsung. Namun, bagaimana jika seseorang itu adalah salah satu yang membuat sesuatu untuk kau nikmati?

Percayalah… Jika sesuatu-yang-kau-nikmati itu tiba-tiba berhenti menghampirimu, kau akan bertanya-tanya: Kemana dia? Kemana orang yang selalu membuat itu? Kau baru merasa kehilangan meski kau bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Namun, tulisan-tulisan yang dia tulis…, bukankah itu cukup sebagai representasi dari ketiadaan fisik seseorang?

Baca lebih lanjut

Review Film: Ready Player One (2018) – Film Nostalgia Angkatan 80-an

Sebelum berbicara tentang film Ready Player One ini, saya ingin membahas sedikit mengenai novelnya. Yoi, film ini diangkat dari novel yang terbit cetakan pertamanya pada tahun 2011. Dan tahukah kalian? Pada tahun yang sama, sang penulis Ernest Cline telah menyetujui proyek untuk pembuatan filmnya, tetapi produksi film baru dimulai tahun 2016.

Sayangnya, novel yang laris di luar Indonesia itu baru dibuat versi terjemahannya tahun 2018 oleh Gramedia! Sangat terlambat! Seandainya dibuat versi Indonesia sekitar tahun 2014 atau 2015 tentu akan menyamai hype novel The Hunger Games, Divergent, atau The Maze Runner. Saya tidak hendak mem-boo Gramedia karena sebenarnya kesalahan ada pada penulis novel itu sendiri. Penulis membuat jeda terlalu lama antara novel pertama dengan kedua. Ada novel kedua? Ada tapi belum terbit. Penulis hanya mengkonfirmasi sekitar bulan Desember 2017 lalu bahwa dia berencana menerbitkan novel kedua. Sepertinya dia menunggu bagaimana respons publik terhadap film yang dibuat dari novel pertamanya, film Ready Player One ini. Kali aja nemu ide baru, bisa tuh diselipin ke draft novelnya. Baca lebih lanjut

Film Yang Wajib Kamu Tonton Di Sisa Hidupmu!

Oh, ehm-ehm, *cek sound* It’s been a while, a couple of months, I guess.

Ini tulisan pertama saya di tahun 2018 setelah tulisan terakhir saya tentang review film flatliners di bulan November 2017. Kira-kira 2 bulan lebih blog ini terabaikan. Seriously? But, who cares? Thank you.

Sebenarnya, blog ini mau saya terlantarkan lebih lama lagi lantaran godaan di luar maya. Tapi waktu ngintip stats, hati saya berbunga-bunga. Belum pernah saya dapat visitors sebanyak ini dalam sebulan. Di bulan januari, gara-gara rilis film The Death Cure (film ke tiga dari seri The Maze Runner (2014)), banyak orang yang mencari tahu tentang novelnya dan kesasar ke postingan review novel ke empatnya The Kill Order (entah apa korelasinya, mestinya kan kesasar ke review novel ke tiganya, tapi kok ini malah ke empat? ah, embuh, idgaf).

Tapi alasan saya kembali nulis di sini tidak hanya gara-gara stats. Ehm, TBH, saya sebenernya rindu kalian. Kalian adalah kalian-ku… eh? Baca lebih lanjut

Review Film FLATLINERS (2017): Horror-Ilmiah

Ada beberapa sumber yang menyebut film Flatliners ini sebagai Horror-Psikologis. Namun, saya lebih cenderung pada Horror-Ilmiah. Sisi psikologis memang ditampilkan dalam film ini. Akan tetapi ada kesan dari film ini yang amat menonjol, yaitu ‘menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi’ dengan frame dunia kedokteran. Dan itu sangat terasa terutama bagi saya yang nol pengetahuan tentang defribillator, adrenaline, syndrom xxx, bla-bla-bla itu, yang acapkali dilontarkan oleh pemain seakan disertai dengan tamparan: ‘Nih, makan ilmu pengetahuan!’

Saya tidak hendak membandingkan film ini dengan film lamanya di tahun 90-an. Ini film remake yang menurut ulasan di sana-sana menyebut film ini mengecewakan karena tidak lebih bagus dari versi yang lama. Inilah risiko dari film franchise karena sebagian penonton telah berpegang pada ekspektasi tertentu. Baca lebih lanjut

Saya Ingin Keloid Sembuh Total

Judul yang sangat desperate. Sebelum membahas lebih lanjut, buat yang belum kenal sama keloid, saya kenalkan lewat contoh keloid di lutut saya, di bawah ini. Bentuknya seperti itu, menonjol dan terus membesar sesuka dia.

Keloid merupakan jaringan parut yang membesar di kulit akibat luka. Kasus ini hanya dialami orang tertentu. Saya salah satunya. Menurut sumber yang pernah saya baca, orang yang memiliki bakat keloid mewarisi gen tsb dari orangtua. Bersyukurlah kalian tidak memiliki bakat ini. Baca lebih lanjut