FF: Berjalan

Saat itu malam. Atau hanya perasaanku.

Aku berjalan di sebuah jalan gelap. Terus memandang ke depan. Terus berjalan. Tidak tampak sesuatu di depan. Di mana depan di mana belakang kalau itu gelap?

Tapi aku hanya terus memandang ke bagian yang kuanggap depan.

Semakin ke depan aku merasa kalau ini akan menjadi semakin gelap. Semakin gelap dan semakin berkurang udara untukku bernapas.

Lalu aku menengok ke belakang. Melihat apa yang aku tinggalkan. Hanya gelap. Aku kembali ke belakang. Terus ke belakang. Perlahan udara memenuhi rongga dadaku. Aku terus berjalan.

Saat itu malam. Atau hanya perasaanku.


Remeh temeh di saat rindu.

 

Iklan

Orang-Orang Yang Menetap

“Dari mana kamu?” Aku melihatnya meloncat dari ujung landasan flying fox dan berjalan terengah-engah mendekat padaku.

Kota ini didesain dengan menara-menara flying fox sejak trend meninggalkan bumi mulai dilakukan oleh hampir semua orang di negeri ini. Menara-menara itu saling terhubung dengan tali-tali baja yang amat kuat. Untuk turun dari menara tertinggi, tidak bisa dilakukan dengan sekali jalan. Kamu akan terlempar dan mati. Dulu pernah terjadi beberapa kali sehingga jalur sekali jalan itu ditutup untuk selamanya. Paling cepat turun dari menara tertinggi harus melewati 3 menara lain hingga akhirnya sampai di permukaan. Bagaimana cara kami naik? Manual. Bukan manual sepenuhnya. Manual maksudku, kamu tidak bisa meluncur dari menara lebih rendah ke menara lebih tinggi. Tetapi kamu harus mendaki tangga menuju tempat yang lebih tinggi dari menara yang kamu tuju. Atau kalau enggan naik tangga, gunakan lift. Sayangnya lift-lift di menara ini sudah tidak berfungsi. Tidak ada lagi orang yang merawat peralatan mekanis di kota ini.

“Aku barusan menyalakan timer terakhir di rumah agama.”

“Masjid maksudmu?” Aku mengintimidasi pandangannya. “Gunakan istilah orang-orang, jangan gunakan istilah pemerintah.”

Aku menyiapkan tempat berbaring untuknya. Dia selalu menemaniku bermalam di atas menara ke 65 ini jika tidak ada tugas.

“Bagaimana dengan teman-teman yang lain?”

“Mereka sudah selesai. Sudah beristirahat di menara masing-masing dan sedang menunggu pertunjukan.”

Aku tidak mengerti dan tidak punya pandangan apapun tentang sampai kapan kami mampu bertahan di sini untuk melangsungkan geliat kehidupan kota.

Dia membuka sepatu boot hitamnya, meletakkan tongkat pukul, dan meregangkan jaketnya lalu berbaring di sebelahku, ikut menatap langit yang akhir-akhir ini tidak pernah menunjukkan gugusan bintang. Orang-orang yang pergi percaya bahwa Tuhan telah mengambil bintang-bintang itu dan dalam waktu dekat juga akan mengambil bumi ini. Aku mengelak!

“Hei, Ernst, kamu tidak berencana pergi?”

Pikiranku buyar tiap mendengar kata pergi. “Pergi ke mana?” Oh, aku tahu. “Pergi dari sini? Dari dunia?” tanyaku sewot.

“Pergi dari bumi, bukan dari dunia, Er.”

Aku melengos lagi ke arah langit. “Bagiku, dunia itu adalah bumi, bukan yang lain.” Lalu aku paham kenapa dia bertanya seperti tadi. “Kamu berencana pergi?” tanyaku.

“Dua cewek di menara 78 sudah menghubungi transilcenter untuk penjemputan. Seminggu lagi benda melayang itu akan datang.”

“Kamu yang mendaftarkan mereka,” tebakku.

Kurasa dia sedang memandangi wajahku. Aku tidak berani menoleh. Aku tidak ingin merasa menghambat dan menahannya di sini sekalipun sebenarnya aku bisa melakukan dan begitu ingin menahannya.

“Ernst, kalau kamu berkenan, aku akan memasukkan namamu ke daftar penjemputan 2 minggu lagi, bersamaku dan seorang teman dari menara 25. Kamu tidak akan jadi 50 orang terakhir yang tinggal di bumi kan?”

Rongga dadaku memanas. Aku punya alasan yang cukup besar untuk membuat wajahnya babak belur, namun aku menahan diri. Bukan karena dia saudaraku, tapi karena langit sedang menayangkan pertunjukan kembang api yang meriah luar biasa.

“Lihatlah, kembang apinya sangat indah. Kali ini mereka bekerja dengan sangat keras.”

Lalu, sayup-sayup terdengar takbir kemenangan dari rekaman suara yang diputar di masjid melatarbelakangi malam hari raya ini. Aku khawatir, jika aku pergi, tidak akan ada lagi orang yang merayakan hari-hari insidental seperti ini sebab ini bagian dari program divisiku.

Maka, aku menjawab dengan lembut, “Jangan pernah daftarkan namaku, Nyck,” di sela-sela puncak pertunjukan. Kulihat wajah Nyck terpapar cahaya letupan kembang api. Dia tersenyum dan tentu saja tidak dengar apa yang barusan kukatakan.


Solo. Sebentar lagi aku pulang, Bu. Tunggu anakmu.

FF: Sugar

Hai, fellow! Rasanya lama sekali enggak jumpa. Maafkan daku yang selama hampir 12 hari enggak nongol 😀 . Saatnya bangun, sibak selimut tebal!

Sebagai tulisan pembuka bulan ini, berikut saya sajikan sebuah Flash Fiction manis. 🙂

***

Kami hidup di sebuah negeri yang sejahtera. Tanah kami dikaruniai kesuburan tidak terkira. Salah satu jenis tanaman yang amat banyak kami kembangkan adalah tebu. Kami memiliki puluhan bahkan ratusan varietas tanaman tebu yang dapat diolah dengan mudah menjadi gula dengan teknik hidrolisis yang dikuasai setiap orang di negeri ini. Baca lebih lanjut

FF: Gurauan Hitam

I re-wrote this from creepy collections.

***

Akhir bulan Maret, musim hujan.

Seorang suami yang cemas menanti kelahiran anak pertamanya gemetar di balik tembok kaca. Istrinya tengah menjalani operasi caesar untuk menghadirkan buah hati mereka ke dunia.

Calon ayah itu merapalkan doa terus menerus untuk keselamatan istrinya. Dia amat khawatir sebab istrinya punya riwayat buruk dengan rahim. Semoga hari ini adalah hari baik mereka, batin sang suami. Baca lebih lanjut

FF: Tepukan

I rewrite this creepy by my own word. I love this creepy very much, and often tell to my new friends to scare them. Funny, right?

***

Sepasang suami istri yang baru saja menikah berencana mendaki gunung. Mereka mengecek segala keperluan pendakian sekali lagi ketika sore menjelang. Mereka akan bermalam di sana, mendirikan tenda seperti para pendaki lain di basecamp pemberhentian. Baca lebih lanjut

FF: Ngobrol

ghost

from google.

“Waktu itu pamanku mengalami kejadian yang sangat aneh. Dia melihat dirinya sendiri di kamar sedang membereskan barang-barang, termasuk buku-bukunya yang lupa ia kembalikan ke rak. Pamanku yang asli kebingungan. Ia menoleh, mencari seseorang selain dirinya sendiri. Sayangnya tidak ada. Tante dan sepupuku, Sinji, masih berada di rumahku.”

Baca lebih lanjut

Mr. Sing

Masa-masa paling canggung dalam hidupku terjadi akhir-akhir ini. Sebagai tetangga baru mereka aku merasa perlu mengakrabkan diri. Setidaknya setiap hari berkunjung ke rumah orang yang berbeda. Kuharap, dengan begitu mereka akan mempertimbangkanku sebagai tetangga yang ideal dan tepat diajak kompromi. Baca lebih lanjut