Lebaran Kupat di Rumah

Sebelum postingan ini menjadi agak basi gara-gara kurang aktual, segera saya publish. Kali ini saya ingin berbagi tentang lebaran kupat yang menjadi tradisi di daerah saya. Kebanyakan kota atau kabupaten di pantura juga merayakan lebaran ini. Di beberapa kota lain yang sebelumnya tidak pernah saya duga ternyata juga merayakan. Seperti yang diceritakan oleh mbak baiqrosmala di blognya. Dan ada pula teman saya yang dari Sumbawa juga merayakannya di hari ke 7 setelah lebaran.

kupat

Kupat (source)

Baca lebih lanjut

Bertetangga Dengan Tetangga #JR1208

rizza umami

Kebanyakan dari kita ketika menginjak usia setelah SMA, 18 tahun atau lebih, akan mendapat wewenang dari orang tua untuk tinggal jauh dari rumah, untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan. Orang tua percaya, di usia tersebut kita dianggap sudah cukup memiliki bekal untuk menjaga diri dari pengaruh lingkungan. Namun, kepercayaan ini tidak selalu diimbangi dengan kondisi masing-masing kita. Kadang ekspektasi orang tua terlalu tinggi, terlalu memercayai kita. Kadang juga ekspektasi orang tua sangat kurang sehingga seringkali malah mengekang pergerakan kita. Baca lebih lanjut

Menyusun Idul Fitri 1436 H.

Idul Fitri terdiri dari dua istilah. Idul berarti kembali. Sedangkan Fitri berarti tidak berpuasa atau berbuka. Sesederhana itu. Jadi, ketika tiba pada hari Idul Fitri, semua orang kembali menjadi tidak berpuasa. Entah, bagi mereka yang mengartikan bahwa idul fitri adalah kembali ke suci, saya kurang tahu, Setahu saya artinya memang seperti yang saya ketahui dan jelaskan tadi.

Pada hari ini, umat muslim di penjuru dunia merayakan hari kemenangan atas perjuangan berpuasa selama sebulan. Menang sebab telah berhasil melawan hawa nafsu. Karena ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak ‘terlihat’, maksudnya tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa ataukah dia hanya berpura-pura (siapa tahu di suatu kesempatan dia telah membatalkan puasanya), maka kemenangan ini tidak berlaku untuk orang tersebut. Baca lebih lanjut

EF #26: Visiting Dentist

I visit dentist not because of toothache, while people are going to see dentist because of their toothaches. It doesn’t mean I’m free from this kind of problem. Last time I have toothache when I am in Junior High School. But last time I see dentist in 2013.

My concern when I have to see dentist is adjusting my teeth. In my family, my teeth formation is the worst. I have three or (four) fangs. So, you will see vampire when you caught me smiling or laughing. I used to be ashamed and always try to reduce my cute smile, but now I could see my special ability on this fault. And sometimes I think, this is not fault, but gift. Baca lebih lanjut

Menjaga Ibu

Hari Minggu kemarin, pukul 11 siang saya dapat SMS dari kakak perempuan saya yang di Semarang. Saya baca SMS-nya pukul 2 siang kalau gak salah. Biasa, namanya juga hari Minggu ditambah hari puasa, jadinya sepagian molor sampe jam 2, *Oh My God*. Biar puasanya tidak begitu jadi alasan kemoloran ini, saya lebih suka menyebut alasan utamanya adalah, “Gara-gara hari Minggu saya jadi molor.” Hari Minggu identik dengan recovery ya? (mestinya bukan recovery Pak, tapi bersih-bersih).

Bunyi SMS-nya seperti ini: “Ibu masuk rumah sakit, kamu pulang enggak?” *DEGGG!*

Baca lebih lanjut

Orang-Orang Yang Menetap

“Dari mana kamu?” Aku melihatnya meloncat dari ujung landasan flying fox dan berjalan terengah-engah mendekat padaku.

Kota ini didesain dengan menara-menara flying fox sejak trend meninggalkan bumi mulai dilakukan oleh hampir semua orang di negeri ini. Menara-menara itu saling terhubung dengan tali-tali baja yang amat kuat. Untuk turun dari menara tertinggi, tidak bisa dilakukan dengan sekali jalan. Kamu akan terlempar dan mati. Dulu pernah terjadi beberapa kali sehingga jalur sekali jalan itu ditutup untuk selamanya. Paling cepat turun dari menara tertinggi harus melewati 3 menara lain hingga akhirnya sampai di permukaan. Bagaimana cara kami naik? Manual. Bukan manual sepenuhnya. Manual maksudku, kamu tidak bisa meluncur dari menara lebih rendah ke menara lebih tinggi. Tetapi kamu harus mendaki tangga menuju tempat yang lebih tinggi dari menara yang kamu tuju. Atau kalau enggan naik tangga, gunakan lift. Sayangnya lift-lift di menara ini sudah tidak berfungsi. Tidak ada lagi orang yang merawat peralatan mekanis di kota ini.

“Aku barusan menyalakan timer terakhir di rumah agama.”

“Masjid maksudmu?” Aku mengintimidasi pandangannya. “Gunakan istilah orang-orang, jangan gunakan istilah pemerintah.”

Aku menyiapkan tempat berbaring untuknya. Dia selalu menemaniku bermalam di atas menara ke 65 ini jika tidak ada tugas.

“Bagaimana dengan teman-teman yang lain?”

“Mereka sudah selesai. Sudah beristirahat di menara masing-masing dan sedang menunggu pertunjukan.”

Aku tidak mengerti dan tidak punya pandangan apapun tentang sampai kapan kami mampu bertahan di sini untuk melangsungkan geliat kehidupan kota.

Dia membuka sepatu boot hitamnya, meletakkan tongkat pukul, dan meregangkan jaketnya lalu berbaring di sebelahku, ikut menatap langit yang akhir-akhir ini tidak pernah menunjukkan gugusan bintang. Orang-orang yang pergi percaya bahwa Tuhan telah mengambil bintang-bintang itu dan dalam waktu dekat juga akan mengambil bumi ini. Aku mengelak!

“Hei, Ernst, kamu tidak berencana pergi?”

Pikiranku buyar tiap mendengar kata pergi. “Pergi ke mana?” Oh, aku tahu. “Pergi dari sini? Dari dunia?” tanyaku sewot.

“Pergi dari bumi, bukan dari dunia, Er.”

Aku melengos lagi ke arah langit. “Bagiku, dunia itu adalah bumi, bukan yang lain.” Lalu aku paham kenapa dia bertanya seperti tadi. “Kamu berencana pergi?” tanyaku.

“Dua cewek di menara 78 sudah menghubungi transilcenter untuk penjemputan. Seminggu lagi benda melayang itu akan datang.”

“Kamu yang mendaftarkan mereka,” tebakku.

Kurasa dia sedang memandangi wajahku. Aku tidak berani menoleh. Aku tidak ingin merasa menghambat dan menahannya di sini sekalipun sebenarnya aku bisa melakukan dan begitu ingin menahannya.

“Ernst, kalau kamu berkenan, aku akan memasukkan namamu ke daftar penjemputan 2 minggu lagi, bersamaku dan seorang teman dari menara 25. Kamu tidak akan jadi 50 orang terakhir yang tinggal di bumi kan?”

Rongga dadaku memanas. Aku punya alasan yang cukup besar untuk membuat wajahnya babak belur, namun aku menahan diri. Bukan karena dia saudaraku, tapi karena langit sedang menayangkan pertunjukan kembang api yang meriah luar biasa.

“Lihatlah, kembang apinya sangat indah. Kali ini mereka bekerja dengan sangat keras.”

Lalu, sayup-sayup terdengar takbir kemenangan dari rekaman suara yang diputar di masjid melatarbelakangi malam hari raya ini. Aku khawatir, jika aku pergi, tidak akan ada lagi orang yang merayakan hari-hari insidental seperti ini sebab ini bagian dari program divisiku.

Maka, aku menjawab dengan lembut, “Jangan pernah daftarkan namaku, Nyck,” di sela-sela puncak pertunjukan. Kulihat wajah Nyck terpapar cahaya letupan kembang api. Dia tersenyum dan tentu saja tidak dengar apa yang barusan kukatakan.


Solo. Sebentar lagi aku pulang, Bu. Tunggu anakmu.