Menuju Seperempat Abad

Ketika menginjak 15 tahun, saya membayangkan betapa menyenangkannya jika kelak sudah berusia 17. Usia yang dipuja-puja banyak orang, yang entah kenapa sepakat untuk disebut sweet seventeen.

Waktu berjalan dan saya sampai dalam lingkaran sweet itu. Saya hanya menikmatinya selama setahun saja, sama seperti usia lain yang tidak spesial. Lalu saya seakan menyadari suatu hal, bahwa spesial atau tidaknya usia bergantung pada bagaimana orang itu menyibukkan waktu. Baca lebih lanjut

Tips Tes PAPs UGM Tembus 650

Saya bukan expert tes potensial akademik (TPA) juga bukan orang jenius. Tapi saya yakin jika kita persistent/gigih dalam berlatih, hasil yang kita peroleh tidak akan mengkhianati usaha.

Bicara tentang persyaratan mendaftar studi S2, setiap universitas memiliki persyaratan masing-masing. Salah satu syarat mutlak yang hampir ada di setiap universitas adalah ‘telah mengikuti TPA dengan skor tertentu’.

Baca lebih lanjut

Review Novel: Domba Berbulu Serigala oleh Rree

Dibuka dengan prolog yang menegangkan, novel ini berhasil mengaduk-aduk rasa penasaran saya sampai akhir. Saya selalu bertanya kejutan apa lagi yang akan dibuat atau dialami tokoh utama.

Novel ini bercerita tentang kehidupan sekolah Robin, cewek SMA yang memilih untuk tidak berteman dengan siapapun gara-gara image buruk yang melekat padanya. Anak-anak di sekolah memandangnya ngeri dan beberapa menganggapnya rendah. Citra ini datang dari anggapan bahwa Robin pasti tidak beda jauh dengan dua sepupunya yang terkenal sebagai bajingan di kampus.

‘Domba Berbulu Serigala’ ini bukan novel teenlit meski tokoh utama masih berusia belasan. Sang penulis, Reza Ramada (atau kita sebut saja Rree) memasukkan novelnya ke dalam genre Politic-School. Sebenarnya ini genre yang baru buat saya, namun tidak begitu asing sebab ada rasa suspense dalam tiap babnya dengan kadar yang wajar.

Baca lebih lanjut

Pengalaman Mengejar Skor TOEFL ITP

Selamat bulan Mei, bloggers!

Lama tidak update, kalau dihitung-hitung sih … mmm, gak usah dihitung, bikin sakit hati (haha, gak mau dibilang inkonsisten).

Selama beberapa bulan kemarin saya mempersiapkan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP untuk bulan Maret. Banyak hal yang perlu dikorbankan untuk meraih skor di atas 500. Tapi bagi saya, dari semua hal yang ada, yang terasa sangat berharga untuk dikorbankan adalah waktu. Saya kehilangan waktu untuk mengerjakan hal lain. But, it’s worth it, karena TOEFL ITP ini adalah salah satu bagian dari mimpi saya.

Baca lebih lanjut