FF: Tepukan

I rewrite this creepy by my own word. I love this creepy very much, and often tell to my new friends to scare them. Funny, right?

***

Sepasang suami istri yang baru saja menikah berencana mendaki gunung. Mereka mengecek segala keperluan pendakian sekali lagi ketika sore menjelang. Mereka akan bermalam di sana, mendirikan tenda seperti para pendaki lain di basecamp pemberhentian.

Ketika sampai setengah perjalanan, keduanya berpapasan dengan rombongan yang turun. Basecamp sudah ditutup, kata mereka.

“Tidak ada orang, Om. Semuanya sudah turun. Ada binatang buas berkeliaran dan tadi baru ditemukan orang mati. Bukannya tadi petugas lewat sini?”

Pasangan itu menghentikan perjalanan. Mereka berunding setelah gerombolan itu menjauh. Akhirnya, meski kurang begitu percaya berita tadi, demi keselamatan mereka turun.

Semakin sore, jalanan menjadi gelap. Sang suami mengeluarkan senter untuk menerangi jalan agar tidak tersesat. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Setelah nyaris satu jam, mereka merasa berjalan di jalan yang keliru.

“Pa, kita hampir sejam tidak menemukan jalan yang tadi.”

“Kita jalan terus.”

Lingkungan sekitar sudah gelap, lengkap dengan pohon-pohon tinggi besar yang kelihatan hidup.

Ketika sampai di jalan yang mereka rasa benar, mereka berencana istirahat sebentar.

“Kita menemukan sesuatu, Ma.”

“Apa?”

“Lihat rumah itu?”

Dahi sang istri berkerut kebingungan. “Maksud Papa?”

“Setahu Papa, dari sini sampai ke bawah masih perlu waktu satu sampai satu setengah jam lagi. Dan Papa tidak yakin tak akan tersesat lagi. Sekarang sudah amat gelap.”

“Maksud Papa?” Sang istri menatap rumah yang berada 20 meter dari tempat mereka berdiri.

“Iya, kita menginap di dalam sana. Mana mungkin mendirikan tenda di luar. Sangat rawan serangan binatang buas.”

Sang istri belum mau berjalan ketika suaminya sudah melangkah beberapa meter.

“Aku sudah lama tidak naik gunung, Ma. Aku juga belum pernah turun gunung di jam-jam seperti ini. Ayolah.”

Sang istri akhirnya menurut meski masih memasang tampang sebal. Sebenarnya ia tidak sebal, ia hanya ketakutan.

Sambil memegang senter di belakang punggung suaminya, ia akhirnya masuk. Rumah ini terbuat dari kayu. Agaknya berusia puluhan tahun.

“Kelihatannya baru seminggu rumah ini digunakan orang. Mungkin untuk istirahat juga.”

Sang istri tidak mendengar, ia mengamati kondisi rumah, menyorot dinding-dinding dan bergidik saat menemukan tulisan, MATI! MATI! MATI! yang ditulis menggunakan cat warna merah. Tiba-tiba kulitnya terasa dingin.

“Papa yakin?”

“Iya.”

Di dalam rumah ini ada sebuah ruangan sempit. Mereka akan membersihkannya untuk tidur, menunggu esok. Setelah semua beres, mereka masuk kantung tidur masing-masing. Pintu ruangan sudah tertutup rapat hingga mereka cukup yakin tak akan ada binantang yang masuk kecuali serangga-serangga kecil.

Untuk mengantar tidur, mereka bercerita kejadian-kejadian masa lalu saat masih berpacaran, hal-hal lucu untuk menghibur diri, dan rencana-rencana indah untuk mengalihkan perhatian mereka dari kondisi rumah yang mencekam.

Sang suami berhasil tidur, sementara sang istri masih terjaga. Ia menekan tombol light pada jam tangan suaminya untuk mengecek waktu berkali-kali. Hingga matanya berat dan siap untuk tidur, tiba-tiba ia merasa ada yang mengganggu dirinya.

Tampaknya ada seseorang yang sedang berlari-lari mengelilingi rumah kayu kecil ini, batin sang istri. Langkah kaki dan deru napas berat semakin membuat sang istri ngeri.

Sang istri pelan-pelan mengguncang tubuh suaminya. Saat suaminya terbangun, suara itu lenyap. Kemudian pria itu tidur kembali karena mengira istrinya cuma main-main.

Suara orang berlari terdengar lagi. Buru-buru, sang istri menekan bahu suaminya. Pria itu terbangun. Ia percaya.

“Sudah kubilang,” bisik istrinya.

“Itu pasti manusia. Aku harus bertanya.”

“Jangan!” seru istrinya pelan.

“Tidak ada orang yang berani berbuat jahat di gunung, Ma,” bantah sang suami. “Siapa di luar?” Ia berbicara keras.

Langkah kaki itu berhenti. Sang istri ketakutan.

“Siapa itu?” Sang suami menanyakan hal yang sama berkali-kali namun tidak terdengar jawaban. Saat ia sudah putus asa, langkah itu terdengar lagi, memutari rumah kayu dengan cepat.

“Siapa itu?” Suara langkah kaki lenyap.

Sang suami punya ide. “Tepukkan tanganmu jika kamu di luar!”

Plok!

Terdengar satu tepukan.

Sang istri gemetar di sebelah suaminya.

“Kamu laki-laki apa perempuan?” tanya pria itu.

Tidak terdengar jawaban.

Ia memanfaatkan idenya lagi. “Apa kamu laki-laki? Jika iya tepuk sekali, jika tidak dua kali.”

Plok! Plok!

Ia bukan laki-laki, batin sang suami.

“Apa kamu perempuan?”

Plok! Plok!

Dua tepukan berarti tidak, kan? Sang istri menyimpulkan.

Mereka berdua saling berpandangan.

“Apa kamu manusia?” tanya pria itu gemetar.

Plok! Plok!

Sampai di situ, ia tidak berani bertanya lagi. Namun, lantaran merasa dipermainkan seseorang, ia mencoba memastikan sekali lagi.

“Apa kamu seorang diri?”

Plok! Plok!

“Berapa jumlah kalian? Satu tepukan untuk satu orang.” Mereka berdua bersiap-siap menutup telinga.

Plok!

Satu tepukan. Namun, diikuti tepukan lain.

PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK!

Dalam sekejap, hutan gunung yang mengitari rumah kayu itu penuh suara tepukan.

Iklan

24 thoughts on “FF: Tepukan

  1. Ryan berkata:

    Tak lama kemudian sang istri terbangun dari mimpinya. Keinginannya untuk naik gunung dengan sang suami pun lenyap seketika.
    #dikeplak Umami bikin ceritanya hancur. Hahahaha.
    Rewrite dari kisah yang mana Umami?

    Disukai oleh 1 orang

  2. Gara berkata:

    Astaga, menyeramkan sekali :takut. Sumpah, gunung di kala malam memang bisa jadi tempat yang demikian berbeda ya, Umami.
    Keren ceritanya. Jadi pelajaran banget supaya kalau bisa ramai-ramai dan dengan persiapan matang apabila naik gunung di tengah malam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s