Merdeka!

Merdeka dalam benak orang lain adalah bebas: bebas dari tuntutan tugas, bebas dari tekanan, bebas dari rutinitas.

Kita bisa memilih untuk ikut dengan orang lain atau membuat makna yang lebih baik.

Merdeka yang dimaknai oleh orang lain seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang salah. Hanya saja, hal itu secara tidak langsung telah mengkerdilkan makna Merdeka.

Saya yakin kita bukan bagian dari orang lain itu. Ketika mendengar kata Merdeka, maka yang muncul dalam benak kita adalah perjuangan para pejuang dalam mempertahankan tanah air.

Kita tidak mengalami apa yang para pejuang itu alami karena kita terlahir di tahun berbeda. Tapi kita sepenuhnya sadar bahwa apa yang kita nikmati saat ini adalah bagian dari kemerdekaan yang mereka perjuangkan.

Para pahlawan yang gugur sebelum kemerdekaan diproklamasikan oleh Bung Karno tak pernah tahu bahwa Indonesia akan merdeka.

Yang mereka tahu mereka harus berjuang.

Pangeran Diponegoro tidak pernah mengeluh kenapa harus dia. Kita pun harus begitu karena kita tidak tahu, apa yang kita lakukan saat ini, mungkin akan berguna di masa depan, di masa ketika kita tidak lagi di sini.

Dengan melihat orang lain melakukan sesuatu yang bermanfaat bukan berarti kita kehilangan kesempatan. Masih banyak hal yang butuh perhatian kita. Kita bukanlah orang yang sama. Masing-masing dari kita adalah unik. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.

Para pejuang mewariskan pada kita tanah air ini. Kita juga akan mewariskan tanah air ini pada generasi berikutnya.

Kita tidak berlomba menjadi orang yang akan ditulis sejarah. Para pahlawan juga tidak berjuang untuk itu. Mereka berjuang dengan bagian masing-masing. Mereka tidak merancang skenario besar kemerdekaan Indonesia.

Mereka tahu, perjuangan di daerah tidak serta merta membuat Indonesia merdeka. Bahkan mereka mungkin merasa perjuangan itu hanya untuk diri mereka, bukan Indonesia. Tapi semangat-semangat itu menyebar ke seluruh pelosok tanah air, menjadikan mereka satu.

NKRI Harga Mati! Semboyan yang digaungkan pertama kali oleh Mbah Liem ini adalah pemersatu, bukan penelanjang identitas kelompok lain yang berbeda dengan kita.

Keringat, darah, dan air mata para pahlawan tak ada artinya jika kita justru menjadi bagian yang merusak bangsa.

Para pahlawan itu, sebelum meninggal, mereka mungkin merasakan penyesalan tentang betapa mereka bisa lebih baik dari itu. Mereka mungkin menyesali suatu hal yang semasa hidup mereka harusnya bisa lebih baik dari yang telah mereka lakukan. Namun, apakah mereka bangga jika melihat kita saat ini?

Sutan Syahrir berkata bahwa kemerdekaan nasional adalah bukan pencapaian akhir, tapi rakyat bebas berkarya adalah pencapaian puncaknya.

Jangan menunggu apel jatuh di kepalamu, lakukan segera!

Dirgahayu Republik Indonesia ke-73, Merdeka!

Iklan

11 respons untuk ā€˜Merdeka!ā€™

  1. Ilham berkata:

    Semoga para oknum perusak bangsa bisa menyadari kesalahannya dan menyadari bahwa yang mereka lakukan itu sia sia, karena Indonesia tak akan pernah bisa di pecah belah…Salam Merdeka

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.