THE RESISTANCE: SATU – BAB 1 (Bag. 2)

Sebelumnya: Bab 1 (Bag.1)

Lucunya, salah satu temanku, seorang dokter kejiwaan juga kebal. Hahaha. Dan perawat yang membantuku seharian tadi juga kebal.

Penuh Hormat,
dr. Wongso.


BAB 1
Bagian 2

Bandung. 17:11.

Green menekan tombol earhook*) yang mengait di telinga kanannya untuk mengeluarkan mask protector. Semua orang perlu mengaktifkan milik masing-masing sebelum keluar dari kereta Hypersonic dan berhadapan langsung dengan udara kota yang kotor.

*) Earhook adalah alat bantu semacam wireless earphone atau earpiece berukuran kecil yang dapat dipasang dengan memasukkan bagian earbud ke dalam rongga telinga dan menyelipkan bagian pengaitnya di daun telinga. Fungsi utamanya untuk mengeluarkan mask protector yang bekerja dengan picotechnology. Earhook berhasil dikembangkan di tahun 2068 sebagai pengganti masker gas model lama untuk melindungi pernapasan dari udara dampak Perang Dunia Ketiga. Sampai sekarang, tahun 2075, dampak itu masih terasa terutama di kota-kota besar dan masih sulit untuk dikendalikan meski pernah digunakan absorben gas terkuat  pada tahun 2037 sampai 2045.

Hyperloop, cikal bakal Hypersonic.

Begitu keluar dari area stasiun, Green memandangi orang-orang yang lalu lalang di jalan. Kota ini tidak lebih ramai dibanding kota kelahirannya, Jakarta. Juga tidak lebih buruk kualitas udaranya, menurut indikator yang terbaca di panel statistik jam tangannya.

Oke, ini dia.

Setelah melewati jalanan dan sampai di kompleks Ninety-Seventy Apartment, Green memindai dirinya di ruang semi-steril untuk membersihkan diri dari substansi berbahaya yang menempel di tubuhnya. Green menonaktifkan fitur mask protector dan benda yang semula menutup sebagian wajahnya itu tiba-tiba menyusut, seolah menghilang ke belakang telinga.

Ketika ia berjalan ke dalam lift, seseorang menyapanya, “Halo, Mr. Natalegawa.”

Green tersentak. Ia memandangi seseorang yang berdiri di sebelahnya. Dokter Dewanto? Ia memang bermaksud menemui dokter ini di apartemen ini. Dokter Dewanto adalah Dokter Kepala yang bertanggung jawab atas kesehatan keluarga Green. Dokter ini yang mengatur kerja sama dengan dokter lain yang menangani keluarga Natalegawa, termasuk dr. Habibie, dr. Wongso, serta dokter spesialis lainnya. Sederhananya, dokter ini sangat sulit ditemui hingga Green terpaksa melakukan hal-hal berbahaya seperti menusuk kaki kakaknya.

“Saya tidak punya banyak waktu. Pesanlah minum di canteen blocks, di ujung lantai ini. Tunggu saya di sana,” kata dokter itu. Penampilannya tidak menunjukkan dokter dengan jabatan yang bagus. Ia terlihat seperti dosen universitas swasta.

Green bingung hendak berucap apa.

Mengetahui respons Green, dokter Dewanto berujar, “Saya tahu kamu akan datang lebih awal, jadi saya sengaja menunggu di sini sekaligus menunggu paket makanan anak saya. Jangan terlihat bodoh begitu.”

“Hm, oke,” balas Green.

Dokter Dewanto menuju unit apartemennya sementara Green berjalan menuju canteen blocks. Ia harus menyiapkan kalimat pembuka yang tepat karena ia sadar pertemuan ini ia lakukan tanpa sepengetahuan kakak maupun ibunya dan dokter itu tidak boleh tahu.

***

Asa Butterfield as Green

***

Flat Blu.

“Apa yang kaubaca?” tanya seorang perempuan.

Blu kembali ke flat-nya. Begitu mengetahui adiknya belum pulang, ia mengajak Adila, sepupunya, ke sini. Telunjuk Blu mengusap layar smartphone ke kanan tiga kali lalu mengamati sebuah tulisan. “Adila, kemari,” panggil Blu.

“Hm.”

“Aku mau tanya.” Blu menatap punggung Adila yang sedang menyiapkan sesuatu di meja dekat kabinet besi.

“Ya?” Cewek itu memasukkan potongan kecil gula ke dalam cangkir. “Mau kopi?”

“Oke,” jawab Blu disertai anggukan.

Blu merasa bimbang saat Adila meletakkan cangkir kopi dan duduk di sebelahnya.

“Aku ingin dengar pendapatmu.” Ada jeda agak lama sebelum ia berbicara lagi. Blu seakan sedang memindahkan batu besar dari dadanya. “Apa kamu pernah berpikir,” kata Blu hati-hati, “… um, kalau mungkin Green bukan adikku?”

Dahi Adila berkerut. Napasnya tertahan sesaat tapi ia segera sadar bahwa ia harus bernapas. Ia sedang menahan diri. “Green adikmu.” Akhirnya ia menjawab setelah 10 detik hening. “Kau bisa melihatnya dari dokumen-dokumen dan bukti otentik kalau ibumu yang melahirkannya,” pungkas Adila dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Ada lengang lagi di langit kamar Blu.

“Maaf jika aku sangat keterlaluan.” Blu menelisik ekspresi Adila. “Green memang anak Mama. Tapi, apa dia… benar anak ayahku?”

Adila tampak kecewa. Ia menggenggam jemari Blu. “Kau memang keterlaluan, Blu. Dan aku tak perlu memaafkan itu.” Cewek itu semakin mengencangkan genggamannya. “Apa yang membuatmu ragu?” Tangannya semakin kuat. Bahkan bisa terasa sakit jika itu bukan tangan Blu. “Aku melihat kalian berdua mirip. Itu artinya kalian sama-sama anak Paman Er.”

“Aku juga berpikir begitu,” aku Blu. “Aku hanya bingung, kenapa Green tidak kebal?”

“Dia kebal,” tanggap Adila cepat. Lalu seakan baru menyadari apa yang didengar dari Blu, ia bertanya, “Maksudmu?”

“Ini.” Blu menyodorkan smartphone-nya.

Kali ini wajah Adila benar-benar diliputi kecemasan. “Kau mencuri file pribadinya?”

“Maaf…,” ucap Blu. “Aku benar-benar jahat. Aku hanya ingin melakukan yang hal benar untuknya.”

To be continue…


Go to: Prolog | Bab 1 Bag. 1 | Bab 1 Bag. 2
Bab 2 Bag. 1 | Bab 2 Bag. 2
Bab 3 Bag. 1 | Bab 3 Bag. 2

Iklan

3 respons untuk ‘THE RESISTANCE: SATU – BAB 1 (Bag. 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.