Review Film FLATLINERS (2017): Horror-Ilmiah

Ada beberapa sumber yang menyebut film Flatliners ini sebagai Horror-Psikologis. Namun, saya lebih cenderung pada Horror-Ilmiah. Sisi psikologis memang ditampilkan dalam film ini. Akan tetapi ada kesan dari film ini yang amat menonjol, yaitu ‘menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi’ dengan frame dunia kedokteran. Dan itu sangat terasa terutama bagi saya yang nol pengetahuan tentang defribillator, adrenaline, syndrom xxx, bla-bla-bla itu, yang acapkali dilontarkan oleh pemain seakan disertai dengan tamparan: ‘Nih, makan ilmu pengetahuan!’

Saya tidak hendak membandingkan film ini dengan film lamanya di tahun 90-an. Ini film remake yang menurut ulasan di sana-sana menyebut film ini mengecewakan karena tidak lebih bagus dari versi yang lama. Inilah risiko dari film franchise karena sebagian penonton telah berpegang pada ekspektasi tertentu.

Flatline sendiri merupakan istilah kedokteran yang merujuk pada garis datar yang tampak pada monitor ECG, keadaan di mana tidak ada aktivitas pada jantung dan otak manusia alias mati.

Flatlining di film ini diartikan sebagai pengalaman sesaat setelah mati. Sementara Flatliners adalah para pelakunya. Tetapi bagi saya tidak sesederhana itu. Jika saya boleh membuat definisi sendiri, Flatliners ini tidak hanya sebagai pelaku (suffix -er pada flatline+er), tapi lebih dari itu. Flatliners di telinga saya terdengar seperti sekelompok orang yang membuat gerakan tak lazim, sehingga saya lebih suka mengartikannya sebagai ‘para pengendali mati suri’. Flatliners: pengendali mati suri.

Film Flatliners (2017) bercerita tentang eksperimen kematian sesaat yang dilakukan oleh 5 orang mahasiswa (dokter magang) di sebuah rumah sakit. Eksperimen ini diawali oleh rasa penasaran Courtney (Ellen Page) mengenai adanya aktivitas otak sesaat pada orang yang baru saja mati. Karena eksperimen kematian adalah ilegal, Courtney mengajak teman-temannya untuk melakukan hal itu di tempat rahasia.

Courtney menjadi Flatliners pertama. Ia memaksa teman-temannya ‘membunuh’ dirinya, merekam aktivitas otaknya selama dia mati, lalu ‘membangkitkan’ dirinya pada menit tertentu dengan prosedur medis yang amat berisiko.

Teori yang dipakai dalam kondisi flatline tersebut adalah bahwa ketika jantung berhenti bekerja, jantung punya batas maksimum hingga 4 menit untuk tidak menerima oksigen. Jika belum lewat batas tersebut, jantung hanya mati sementara dan kemungkinan besar bisa dipaksa untuk berdetak lagi sehingga para flatliner meminta untuk dihidupkan kembali setelah semenit, 2 menit, atau bahkan 3 menit, tidak lebih.

Sekembalinya dari mati suri yang ia minta sendiri, Courtney menjadi orang yang berbeda. Ia seperti terlahir kembali dengan kemampuan lebih baik dari sebelumnya. Ia menjadi lebih pintar dibanding teman-temannya sehingga hal ini membuat Jamie (James Norton), Marlo (Nina Dobrev), dan Sophia (Kiersey Clemons) ingin melakukan hal yang sama: flatlining. Sementara Ray (Diego Luna) tidak ikut mencoba karena dari awal ia menolak adanya eksperimen seperti yang diinisiasi oleh Courtney ini. Namun, sebagai teman, ia tetap membantu mereka karena sebenarnya dialah yang paling berkompeten dalam tindakan medis yang dilakukan dalam eksperimen flatline tsb.

Awalnya semua terasa menyenangkan: bermain-main dengan kematian. Namun seiring berjalan waktu, kejadian aneh menimpa mereka para flatliner.

Ibarat sebuah hutang kematian, mereka seperti merasa dikejar-kejar oleh hantu yang mengajak mereka untuk mati lantaran telah berani bermain-main dengan dunia orang mati.

Konflik dikejar kematian ini dibungkus dengan menyeruaknya penyesalan masing-masing tokoh atas dosa terbesar di masa lalu, atas kesalaahan yang mereka perbuat dan belum mereka pertanggungjawabkan.

Nilai yang diangkat di film ini sepertinya memang poin itu, tentang pengakuan atas dosa di masa lalu. Bahwa setiap manusia pasti punya kesalahan dan mereka harus bertanggung jawab untuk itu.

Saya tertarik untuk menonton film ini karena tertulis nama Nina Dobrev di posternya. Saya tidak cukup tahu tentang orang ini, tapi yang saya tahu, dia saya temukan pertama kali pada drama tv series, The Vampire Diaries, tontonan saya di masa senggang zaman baheula yang tidak tuntas. Di series tersebut, yang cukup menyita perhatian saya, bagaimana seorang Nina Dobrev memainkan 2 tokoh berbeda dan melakukan adegan ciuman dengan 5 aktor pria yang ada di drama series tersebut. OMG. Tentu saja tidak dalam satu episode adegannya -..-

Lalu di Flatliners ini dia beradegan tidak senonoh dengan Diego Luna. Hmft. Ini cewek siapa sih? Yang jadi cowoknya pasti ikhlas banget. She’s professional, bro. Of course, 6 different men, maybe more..

Poster yang tidak jujur. Diego Luna tidak melakukannya di film. Liar. Source.

Nilai: 6/10
Rotten Tomatoes: 5%
IMDb: 5/10

Directed: Niels Arden Oplev
Written by: Ben Ripley
Production: Columbia Pictures
Distributed by: Sony Pictures
Running time: 110 minutes
Release date: 27 October 2017 (Indonesia)


Untuk ukuran film horror, buat saya, Flatliners tidak cukup menakutkan. Nilai plusnya, untung para pemainnya fresh, sexy, dan enak dipandang. Film dengan ide bagus tapi dieksekusi dengan plot cerita yang sangat sederhana, mudah ditebak, dan agaknya memang membosankan. Cukup ringan untuk ditonton. Tidak cukup untuk meninggalkan kesan.

34 respons untuk ‘Review Film FLATLINERS (2017): Horror-Ilmiah

  1. Desfortin berkata:

    Saya sudah lma gak nonton film. Jd, bnyak film yg sy gak update lg, tanduk Flatlibers ini. Nampaknya unik jg ya, anti mainstream kyaknya, aplgi yg berurusan dg mati suri bgtu.

    Suka

    • rizzaumami berkata:

      yoi bang, ga tau kalo sekarang mungkin nambah, pas aku cek si baru 63 reviews soalnya filmnya masih lama tayangnya, mestinya impresi awal sudah menunjukkan kualitas filmnya di mata penonton, tp tetep aja aku tonton hehey..

      Suka

  2. Eve berkata:

    Interesting point or view. Try to watch Black Mirror series and make a review here. It’ll change your mind about the genre (esp technology in satire theme 🙂)

    Suka

Tinggalkan Balasan ke mulyasaadigo Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.