Negeri yang Dihukum


‘…allahu akbar, allahu akbar, asyhaduanlaa ilaa ha illallaah!’

Bukan lagi kumandang azan. Azan tidak pernah seperti itu. Azan mestinya memerhatikan waktu. Tapi itu memang azan. Azan itu tidak menyuarakan kemenangan, tidak mengajak salat, dan tidak benar-benar memberi kesaksian atas Rasul mereka. Hampir setiap surau, musala, masjid, dan tempat-tempat ibadah lain yang jarang didatangi sedang menyuarakan azan secara bersamaan.

‘Ibu, ada apa, Bu? Apa yang sedang terjadi?’

Di tengah-tengah kekacauan, seorang anak bertanya. Rumah mereka diterjang angin badai tanpa hujan. Gemuruh angin yang mengoyak pepohonan menunjukkan pada mereka kekuatan Sang Pemilik Semesta. Atap rumah mereka yang terbuat dari tanah diterbangkan lalu dihempaskan di atas rumah yang lain seperti menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu yang berasal dari tanah harus dikembalikan ke tanah.

Langit petang, mereka berlari kebingungan. Debu, tanah, dan material kecil yang bisa diterbangkan angin menghalau mereka. Mereka ingin menuju tempat ibadah.

‘Apa kau ingin berlindung?!’ teriak seorang.

‘Bukan!’ jawab seorang yang lain. ‘Aku hendak bertaubat!’

Mereka berlari menuju masjid. Masjid yang selalu sepi, tak ubahnya museum pada zaman millenium, tak bisa melindungi mereka, tidak seperti waktu tsunami di negeri mereka dulu. Masjid ini sama dengan bangunan yang lain, akan segera rubuh atau ‘dirubuhkan’.

Mereka saling bertanya apakah mereka sudah terlambat, ataukah ini hanya sementara. Mereka meminta jawaban tapi yang diminta justru bertanya. Mereka ketakutan.

Negeri mereka bergantung pada manusia. Manusia bergantung pada manusia yang lain. Manusia yang lain bergantung pada belas kasih negeri mereka. Tidak ada Tuhan di lingkaran itu. Atau, Tuhan barangkali sudah menyatu dalam setiap sendi kehidupan, seperti kata mereka, karena Tuhan sangat dekat, bahkan lebih dekat dibanding urat leher mereka.

Penguasa yang berbuat zalim pada kaum tertentu mereka biarkan. Karena jika mereka marah pada penguasa, mereka akan berhadapan dengan sesama, mereka harus melawan para pembela penguasa. Dan merekalah yang akhirnya disebut zalim dan terlalu berlebihan. Para ulama dan kiai diremehkan dan diabaikan. Lalu, ulama dan kiai mati. Hanya menyisakan orang-orang yang mengaku pembela agama. Padahal mereka hanya pembaca terjemahan. mereka hanya sampai di permukaan saja. Atau mereka memang lebih nyaman di permukaan. Karena jika mereka menyelam, mereka akan ketinggalan zaman, mereka akan diremehkan dan dicampakan lalu mati.

Ketika para ulama dan kiai diangkat ke langit, ilmu mereka turut serta.

‘Saya anak kiai, ikuti saya!’ Nasab, penampilan, dan nama besar menjadi modal untuk mencari nama yang lebih besar lagi.

‘Saya pengusaha, ikuti saya!’ Lalu para pemilik rumah Allah berbondong-bondong mengais ‘rezeki’ dari mereka, memasukkan mereka ke dalam rumah-rumah Allah, lalu menyembah mereka.

‘Berikan uang anda, saya kembalikan berlipat!’ Kemudian mereka berbondong-bondong menimpakan harta benda mereka, bergantung pada hal yang tidak patut dipergantungkan, meninggalkan kehidupan mereka, memutus tali silaturrahmi, dan tidak mau bekerja lagi karena sudah ada yang bekerja untuk mereka.

‘Kenapa dulu aku tidak mati saja?!’

‘Kau harus bersyukur karena masih diberi kehidupan!’ teriak seorang. Mereka berdua nyaris buta, tangan mereka menggenggam satu sama lain.

‘Kau masih bisa bersyukur ketika sedang diazab? Tuhan sedang menghukum kita. Bagaimana kau mensyukuri hal ini? Aduh!’ Mereka berdua tersungkur, kaki-kaki mereka terbenam di tanah. Langit masih gelap. Dunia tengah menunggu dari mana arah munculnya matahari.

‘Temanku, kalau kau tidak sanggup bersyukur, bersabarlah!’

‘Semua ini sudah tidak ada gunanya, Kawan! Mereka telah menutup langit. Bersabar atau tidak sama saja. Tidak ada yang dihitung dari perbuatan kita sejak saat ini!’ Kali ini angin dengan amat kuat menghepas mereka ke tanah, hendak mengubur mereka hidup-hidup.

‘…hayyaa alash sholaah!’

Suara azan itu terdengar berulang-ulang dan masih saja diliputi ketakutan bukan kemenangan. Mereka pikir azan itu bisa melawan kekuatan Pemilik Alam Semesta. Dulu memang iya, tapi sekarang apa mereka masih yakin hendak melawan Tuhan mereka dengan senjata itu?

Di sebuah masjid yang sudah kehilangan sebagian atap, orang berdesak-desakan. Wajah mereka tidak bisa dibedakan dari yang lainnya. Beberapa orang berdiri, mengumandangkan azan bersama. Beberapa orang menangis berpelukan. Beberapa orang mengangkat tangan, memarahi Tuhan mereka. Beberapa orang berkali-kali menyebut nama Tuhan mereka tanpa kata-kata. Beberapa orang bahkan masih berani menatap langit.

‘Apa yang kamu takutkan?’

‘Aku takut siksa Allah.’

‘Kalau saja siksa itu tidak ada, masihkah kau takut pada Allah-mu itu?’

Lalu, GEMURUH. LEBUR. jeritan. hancur.


.Jepara 181016.

Iklan

16 thoughts on “Negeri yang Dihukum

  1. shiq4 berkata:

    Kejadian di akhir hidup. Saat orang benar-benar mengalami kematian, maka satu-satunya yang mereka sesali adalah mengapa ketika hidup dan sehat mereka tidak mau beribadah kepada Tuhannya.

    Suka

  2. Levina berkata:

    Keren ceritanya .
    Saat sudah kejadian buruk menimpa, biasanya baru kita ingat Allah. Manusia memang seperti itu yak. Makanya kenapa mungkin sebelum terlambat kita harus saling mengingatkan untuk kebaikan, walaupun kadang pedih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s