Review Novel Gelombang (Book 5 of Supernova) – @DeeLestari

Barangkali ini yang disebut dengan masterpiece, benak saya mengutarakan kalimat ini sesaat setelah membaca halaman akhir novel Gelombang lalu memandangi sampul depan berkali-kali.

Saya berani menyebut Windy Ariestanty atau Ika Natassa sebagai penulis-pengamat, Tere Liye sebagai penulis-perenung, sementara Dewi Lestari sebagai penulis-pemikir.

Saya tidak mengikuti seri Supernova secara runtut dari awal. Namun saya sempat nonton film Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh tahun 2015 (Baca Review Film Supernova). Terakhir kali saya baca karya Dewi Lestari (Dee Lestari) adalah rectoverso, kumpulan cerpen, (yang sekarang bukunya entah dibawa siapa). Lalu tiba-tiba disodorkan seri Supernova ke 5 Gelombang dan langsung membuat saya penasaran dengan kelanjutan kisahnya serta apa yang telah saya lewatkan selama ini.

2016-07-16 08.18.39

Gelombang – Dewi Lestari

Sebenarnya tidak banyak novel di rumah saya. Hanya saja dari tidak-banyak itu sebagian besar memang belum saya baca. Jadilah saya baca novel terbitan 2014 ini di tahun 2016, ketika seri ke 6 Supernova: Inteligensi Embun Pagi telah terbit.

Detail Book
Gelombang (Book #5 of Supernova), Dee Lestari
Bentang Pustaka, 492 halaman, Oktober 2014, Rating 3.98 (4 from me)

Bukan saatnya memuji sosok Dee Lestari karena sudah banyak orang yang telah melakukannya. Tapi kalau kalian ingin tahu lebih banyak mending meluncur ke wikipedia.

Di paragraf awal saya menyebut Dee sebagai penulis-pemikir setelah membaca karya-karyanya dan membandingkan dengan karya penulis lain yang saya sebutkan di atas. Kalian akan mengerti maksud saya. Sederhananya seperti ini, materi yang digunakan Dee adalah kultur dan sains, tipe pemikir, sedangkan pengamat sering bicara tentang tempat, makanan, penampilan, dan sesuatu berbau visual. Satu lagi yakni tentang sejarah, romansa, serta pelajaran hidup lebih sering ditampilkan oleh perenung.

Tidak berbeda dengan turunan ilmu kimia, antara kimia organik, analitik atau anorganik, ketiga tipe penulis di atas tentu memiliki metode riset yang berbeda-beda. Meski saya belum menanyakan langsung ke ketiganya, dengan mengamati komposisi karya-karya tersebut, bagi saya cukup membantu walaupun bisa dibilang cara saya ini kurang reprodusibel.

Gelombang berisi keping 43 dan 44. Keping 43 memuat cerita singkat, tidak lebih dari 20 halaman yang tidak berkaitan langsung dengan keping 44. Dee sengaja menggunakan istilah keping (fragment or piece) karena cerita yang ia bangun memang berupa potongan-potongan misteri yang belum lengkap. Itulah kenapa sangat dianjurkan untuk melahap semua serinya supaya dahaga penasaran kalian terobati.

Meskipun begitu, menurut saya tidak ada salahnya kalian membaca Gelombang ini tanpa harus membaca seri sebelumnya karena cerita yang tertulis di sini utuh, dan rasanya tidak perlu merujuk ke peristiwa-peristiwa lain di luar novel.

Gelombang dimulai dengan pencarian Diva oleh Gio di Amerika Selatan melibatkan tim SAR selama berhari-hari. Fragmen cerita di keping 43 ini berhenti ketika Gio bertemu orang misterius yang pernah ia temui dulu, membawa potongan misteri yang perlahan menyadarkan keberadaannya. Lalu berlanjut ke keping 44 tentang Gelombang (bagian pokok dari novel ini). Tokoh utamanya Alfa (Ichon), anak laki-laki Batak yang hidup di kampung Sianjur Mula-Mula. Konon di sanalah tempat nenek moyang semua orang Batak.

Pada usia 12 tahun, Alfa memulai pencariannya. Sejak Si Jaga Portibi (The Guardian of Universe), sosok astral menyeramkan, menampakkan diri pada Alfa dan mengganggu tidurnya, semenjak itu tidur menjadi hal yang menakutkan bagi Alfa. Ia beranggapan bahwa mimpi dalam tidurnya sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya lantaran ia kerap menemukan dirinya mengalami sesak napas dan berusaha menyakiti dirinya sendiri sebangun dari tidur.

Kemudian tiba saat keluarganya merantau ke Jakarta, memenuhi keinginan ayahnya untuk menyekolahkan dan mensukseskan masa depan Alfa dan kedua kakaknya. Melompat beberapa tahun ke depan, ketika Alfa kelas 2 SMA, seorang kawan, orang Batak yang bekerja di Amerika membawa Alfa untuk sekolah serta melanjutkan kuliah dan bekerja di sana. Hingga Alfa sukses dan mampu membayar hutang-hutang ayahnya, ia mendeteksi bahwa pada akhirnya tubuhnya punya batas. Selama 11 tahun Alfa selalu menghindari tidur, ia menyibukkan diri dengan apapun dan memilih tidur sesekali dengan durasi tidak lebih dari sejam atau kurang dari 90 menit. Karena setiap kali ia jatuh ke dalam tidur-yang-dalam, ia akan mengalami mimpi yang terasa amat nyata baginya, menakutkan, dan tiap kali ia berhasil bangun dari mimpi itu, ia merasa hampir mati.

Dalam Gelombang ini, Dee bereksperimen dengan lucid dream (terasa seperti film Inception). Ia membuat tokoh Alfa belajar tentang mimpi dan melakukan mimpi sadar untuk mengumpulkan informasi tentang dirinya yang sebenarnya, tentang apa yang membuatnya mengalami 11 tahun siklus tidur yang menyakitkan itu, dan tentang apa yang ingin dibagi seseorang/siapapun melalui mimpi aneh yang kerap ia alami.

Perjalanan Alfa dari New Jersey, New York dan Tibet sangat menarik untuk diikuti. Dee memberikan pengalaman pada saya seperti Dan Brown pada novel Inferno.

Saya tidak punya sedikitpun pertanyaan atau pernyataan miring tentang novel ini. Dee is already a master. Apa yang ia tulis menjadi begitu sayang untuk dilewatkan. Fragmen-fragmen cerita dalam Gelombang agaknya bakal membantu saya memilih dan membedakan kelas-kelas novel yang saya baca dengan genre serupa. Dan bisa dibilang ini adalah novel yang bakal menaikkan selera novel sci-fiction dan fantasy saya. [ ]

Iklan

24 thoughts on “Review Novel Gelombang (Book 5 of Supernova) – @DeeLestari

  1. Susie Ncuss berkata:

    aku belum baca satu punn…
    aku tertarik sama serial supernovanya-Dee gegara dengerin musikalisasi puisi (?) ksatria, putri, dan bintang jatuh di soundcloud. tapi ya itu tadi, belum punya keinginan buat beli novelnya.

    karena skrg udah beres serialnya dan baca review ini, ketertarikan saya jadi bangkit kembali.
    huhu…cuss…nunggu gajian #eh :))

    Suka

  2. nyayujuairia berkata:

    Aku belum pernah baca buku-bukunya Dee, karena gak penasaran sama genrenya, tapi pernah ngebeliin temen kado ulang tahun satu paket bukunya Dee, sebelum beli sempet baca reviewnya sih sekilas dan kerasa berat. 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s