Review Novel ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’

Ketemu lagi (lagi-lagi) dengan penulis novel ini: Tere Liye. Jangan bosan-bosan ya. Kalo bosan makanya kasih saya novel kamu buat di-review, πŸ˜€ .

Judul novel ini: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
Penulis: Tere Liye
Tebal: 264 halaman
Penerbit: GPU, Cetakan kedua Oktober 2010
Ratings: Me 3 of 5. Goodreads 3.92.

To be honest, saya tipe orang yang mudah mundur gara-gara kesan pertama kurang enak dari sebuah novel. Itu yang terjadi waktu saya baca novel Tere Liye ini. Dulu banget, pas masih baru novelnya. Novel ini kesimpen bersama novel lain yang belum saya baca di rumah. Lama setelah saya memutuskan untuk tidak membacanya, banyak teman-teman yang nanya sama saya, punya novel Tere Liye apa aja. FYI, anak-anak muda yang sedang masa cinta-cintaan dan doyan baca, pasti tahu Tere Liye. Mereka ibaratkan Tere Liye ini dokter cintanya anak muda. Lihatlah kutipan-kutipan yang dibuat penulis terkenal ini di jagat maya. Kece deh pokoknya.

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

Mereka bilang novel ini bagus. Bagus banget. Ditambah tidak terlalu tebal, hanya 264 halaman. Lantaran kemakan omongan mereka, akhirnya saya comot novelnya, saya baca kemarin. Dua hari selesai.

Apa artinya? Buat saya, baca novel 2 hari itu tergolong cepat. (Mungkin buat nerds beberapa jam aja bisa, ya?). Artinya, novel ini tergolong ringan atau novel ini bikin penasaran. Dan saya setuju dengan pilihan kedua: novel ini bikin penasaran.

Di novel ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ ini,–capek ya ngetik judul sepanjang ini–Tere Liye bercerita kisah cinta beda usia dengan genre Young Adult, bukan teenlit. Dibuat dengan dua setting waktu: present and past. Alurnya maju mundur (diceritakan beriringan) tapi enggak bikin bingung. Kalau divisualkan, alurnya jadi seperti ini:

past

Alur maju-mundurnya bekerja amat baik di novel ini. Tokoh Tania menceritakan kembali masa lalunya dalam perjalanannya bertemu tokoh lain, Danar. Cerita masa lalu itulah yang memakan banyak porsi novel ini.

Novel ini bercerita tentang ‘cinta yang tak sampai’. Tania (tokoh utama, aku) dan adiknya, Dede diasuh oleh Danar, orang yang mereka kenal dari tempat ngamen. Terjalin hubungan kekerabatan antara keluarga Tania (yang saat itu masih ada Ibu) dengan Danar. Danar hidup sendiri. Danar adalah sosok malaikat penolong bagi keluarga Tania, sejak Tania SD hingga lulus kuliah, sejak Dede SD hingga kuliah. Sayangnya, Tania harus mengalami keadaan di mana dia secara tidak kuasa mencintai malaikat itu, yang usianya terpaut amat jauh. Bagaimana kisah cinta yang kalau dipikir-pikir kurang pantas itu? You have to read by yourself, friends.

Tambahan: agaknya ada yang sedikit mengganggu di novel ini, soal kisah cinta antara dua orang dengan selisih umur yang sangat jauh, 14 tahun. But, ini oke sih. Yang jadi masalah, kenapa novel ini menunjukkan pada pembaca bahwa ada seorang laki-laki dewasa yang menyukai alias mencintai seorang gadis berusia 12 tahun? Agak berbau pdf. 😐

Kelebihan novel ini terletak pada kelihaian Tere Liye dalam mengolah konflik. Dari dulu sampai sekarang, saya mengakui kalau Tere Liye jago dalam urusan konflik cinta dan romantisme. Bisa dibilang seakan dia punya banyak solusi atas semua permasalahan cinta.

Saya sebagai cowok yang tangguh (*euh) sempat mengalami gejolak emosi di bab-bab terakhir. Seperti yang pernah saya bilang, penulis ini jago sekali mengeluarkan jurusnya di bab-bab terakhir. Kalau boleh komentar agak frontal, kesan pertama saya di novel ini, konflik yang diangkat terlalu remeh. Namun, setelah saya baca lebih lanjut, ternyata Tere Liye punya resep lain untuk menarik hati pembacanya dengan konflik ‘remeh’-nya itu.

Saya kagum pada detail yang dibuat oleh penulis, terutama detail perasaan dan argumentasi tokoh. Saya kasih lihat buat kamu, πŸ™‚ (kalau capek baca, skip boleh, tapi saya udah spoilerkan dikit lho).

Satu setengah bulan itu benar-benar menjadi masa-masa tersulitku (dengan masalah yang berbeda dibandingkan tiga tahun jadi anak jalanan dulu).

“Kau tidak berhak untuk keberatan, honey.” Anne menatapku prihatin. Aku memutuskan berkunjung ke rumah Anne di Kuala Lumpur.

“Bukankah dia bukan siapa-siapamu? Mana ada malaikat yang bisa menruti kemauan orang biasa?” Anne menyengir mengatakan kata angel itu. Anne sengaja mengungkit-ungkit kata-kata dalam pidatoku dulu. Seseorang, malaikat kami.

“Aku juga sudah bilang berkali-kali, kau terlalu banyak berharap. Baginya kau tak lebih dari anak kecil yang bandel. Atau adik kecil yang pencemburu. Atau sejenis itulah.”

Aku tetap tertunduk.

“Tania?” Anne memegang lenganku.

“Tetapi aku ingin tahu perasaannya. Boleh, kan?” aku menjawab lemah, putus asa.

“Buat apa? Sudah jelask kan, dia akan menikah dengan cewek artis itu? Apalagi yang hendak kautanyakan ke dia? Perasaannya sudah sejelas bintang di langit, Tania. Clear! Aduh, kamu kenapa jadi kekanak-kanakan seperti ini sih?”

Aku mengeluh.

“Setidaknya dia harus tahu apa perasaanku, kan?”

“Oh my goodness…. Buat apa, Tania? Kau hanya merusak banyak hal. Merusak hubungan kalian sebagai adik-kakak, atau entahlah selama ini. Bisakah kau membayangkan apa yang akan terjadi kalua dia tahu apa perasaanmu? Satu, mungkin dia tidak mengacuhkanmu, tidak peduli. Dua, mungkin dia bisa menyikapinya dengan baik dan dewasa, yang aku yakin inilah yang akan dia lakukan kalau melihat betapa ‘cool-nya’ dia saat mengatasi geng Maggie.

“Tiga, dia bisa jadi justru menjauh. Kau membuatnya takut. Kau adiknya sendiri membuatnya risi. Empat, dia jangan-jangan malah membencimu…. Keberadaanmu bisa mengganggu hubungannya dengan cewek arti itu…. Please be rational, my friend! Mereka akan menikah! Bukan barusan jadian, bukan baru say I love you. Mereka akan menikah. Tiga bulan lagi.”

Aku mengeluh. Anne tidak membantu apapun. Percuma aku jauh-jauh datang bertanya ke Kuala Lumpur.

“Tidak adakah kemungkinan yang kelima?” aku bertanya lemah. Menatap kosong Anne.

Anne tertawa.

“Maksudmu, dia tiba-tiba seratus delapan puluh derajat berubah pikiran? Membatalkan pernikahan. Lantas bilang, ‘Oh, Tania. Aku juga cinta padamu.’ C’mon…. Itu hanya satu banding seperjuta kemungkinan. Dan sayang, itu tidak ada dalam kamus kehidupan orang sedewa, sematang, dan sekeren dia.” Anne menatapku putus asa.

“Tapi, aku ingin dia tahu apa yang aku pikirkan. Apa yang aku rasakan. Aku kan berhak menyampaikan semua perasaan ini.”

“Kau memang berhak, Tania…. Tetapi kau lupa dia juga berhak untuk tidak mendengar apa yang akan kausampaikan. Dan bicara soal hak, kau juga berkewajiban membuat rencana pernikahan itu berjalan lancar sebagaimana mestinya. Bukan kacau balau oleh perasaan kekagumanmu itu. Obsesi kekanak-kanakanmu. Lupakan, Tania. Semuanya.” (p.132-134)

Another.

“Tahukah kau, selama ini aku iri padamu, Tania. Setiap melihat wajahmu yang menyenangkan, teman-teman di kelas juga terbawa ikut senang. Aku tak pernah membayangkan punya teman dengan kemampuan memengaruhi sebesar kau, Tania. Dan tahukah kau, saat melihatmu sekarang menangis, hatiku juga ikut tertusuk….” Anne mendekapku. (p.143)

And.

“Dulu Anne pernah bilang, orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” (p.247)

Saya awalnya tidak sadar dengan kesamaan tiga fragmen cerita di atas. Setelah saya telisik ternyata ketiganya berhubungan dengan Anne. Anne adalah teman akrab Tania sewaku kuliah di Singapura. Dan saya suka sekali dengan karakter Anne di sini.

This is my 16th book in very last of 2015. How are you doing?

Iklan

24 thoughts on “Review Novel ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’

    • Jenggala Aksara berkata:

      ini buku tereliye yang paling pertama kubaca dari banyak buku lainnya tereliye… tapi aq sudah lama berhenti membaca tereliye (mengingat doi konsisten banget karya barunya), karena pada akhirnya aq seperti sudah hafal banget gaya tulisan dan ceritanya doi. tapi jujur, bukunya menarik untuk dikoleksi… terutama judul2 yang menurut aq pribadi dahsyat banget… seperti buku lamanya “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”

      Disukai oleh 1 orang

  1. abah shofi berkata:

    Mas riza seneng novel kyknya yah.. Mantap !

    Kalo sy random sih, pernah baca novelnya jk r hary potter eh potter, Dan Brown, kalo local Andrea hirata dan Ahmad fuadi. Yg paling nerksan sm Negri Lima menaranya Ahmad fuadi πŸ˜€

    Disukai oleh 2 orang

  2. Gara berkata:

    Aih, aih, Tere Liye memang pintar sangat memainkan emosi tokohnya, yang pada gilirannya juga mengaduk emosi pembaca. Dulu pernah lihat novel ini di toko buku, tapi belum sempat beli karena harganya mahal :haha. Tapi judulnya memang bagus dan eye-catching! Susah dilupakan nih judul novelnya. Mengundang imajinasi juga untuk bertualang rasa menafsirkan judul itu.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Deva Fredeva berkata:

    Sering main ke book store and found this cool one. Tapi waktu itu ditarohnya deket buku Bernard Batubara yang Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri (panjangan mana coba?), akhirnya beli yang punya Bernard deh..
    Duh, kalo ketemu buku ini lagi In shaa Allah mau beli ah..

    Suka

  4. febridwicahya berkata:

    tentang kisah cinta yang yang tak sampai. klasik ya? tapi mas tere liye menggarapnya dengan sangat apik kayaknya dengan alur yang begitu :))

    penasaran. liburan besok coba baca satu novel tereliye ah :’)

    Suka

  5. Jenggala Aksara berkata:

    hmmm,,,, jadi teringat masa-masa ketika aq tuh addicted banget sama Tere Liye… dan yah, betul sekali, pertama kali aq baca tereliye adalah buku ini.. persis, buku ini… bukunya tipis, kesannya ringan, tapi covernya cakep… pas aq baca, aku langsung kepo dan mencari terbitan republika yang ditulis tereliye lainnya… akhirnya ketemulah beberapa buku yang aq puja-puja… sampai sekarang, masih judul buku lama saja yang kupuja.. karena pada intinya, tereliye punya gaya penulisan yang khas dan tidak banyak berubah dari satu buku ke buku lainnya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s