Orang-Orang Yang Menetap

“Dari mana kamu?” Aku melihatnya meloncat dari ujung landasan flying fox dan berjalan terengah-engah mendekat padaku.

Kota ini didesain dengan menara-menara flying fox sejak trend meninggalkan bumi mulai dilakukan oleh hampir semua orang di negeri ini. Menara-menara itu saling terhubung dengan tali-tali baja yang amat kuat. Untuk turun dari menara tertinggi, tidak bisa dilakukan dengan sekali jalan. Kamu akan terlempar dan mati. Dulu pernah terjadi beberapa kali sehingga jalur sekali jalan itu ditutup untuk selamanya. Paling cepat turun dari menara tertinggi harus melewati 3 menara lain hingga akhirnya sampai di permukaan. Bagaimana cara kami naik? Manual. Bukan manual sepenuhnya. Manual maksudku, kamu tidak bisa meluncur dari menara lebih rendah ke menara lebih tinggi. Tetapi kamu harus mendaki tangga menuju tempat yang lebih tinggi dari menara yang kamu tuju. Atau kalau enggan naik tangga, gunakan lift. Sayangnya lift-lift di menara ini sudah tidak berfungsi. Tidak ada lagi orang yang merawat peralatan mekanis di kota ini.

“Aku barusan menyalakan timer terakhir di rumah agama.”

“Masjid maksudmu?” Aku mengintimidasi pandangannya. “Gunakan istilah orang-orang, jangan gunakan istilah pemerintah.”

Aku menyiapkan tempat berbaring untuknya. Dia selalu menemaniku bermalam di atas menara ke 65 ini jika tidak ada tugas.

“Bagaimana dengan teman-teman yang lain?”

“Mereka sudah selesai. Sudah beristirahat di menara masing-masing dan sedang menunggu pertunjukan.”

Aku tidak mengerti dan tidak punya pandangan apapun tentang sampai kapan kami mampu bertahan di sini untuk melangsungkan geliat kehidupan kota.

Dia membuka sepatu boot hitamnya, meletakkan tongkat pukul, dan meregangkan jaketnya lalu berbaring di sebelahku, ikut menatap langit yang akhir-akhir ini tidak pernah menunjukkan gugusan bintang. Orang-orang yang pergi percaya bahwa Tuhan telah mengambil bintang-bintang itu dan dalam waktu dekat juga akan mengambil bumi ini. Aku mengelak!

“Hei, Ernst, kamu tidak berencana pergi?”

Pikiranku buyar tiap mendengar kata pergi. “Pergi ke mana?” Oh, aku tahu. “Pergi dari sini? Dari dunia?” tanyaku sewot.

“Pergi dari bumi, bukan dari dunia, Er.”

Aku melengos lagi ke arah langit. “Bagiku, dunia itu adalah bumi, bukan yang lain.” Lalu aku paham kenapa dia bertanya seperti tadi. “Kamu berencana pergi?” tanyaku.

“Dua cewek di menara 78 sudah menghubungi transilcenter untuk penjemputan. Seminggu lagi benda melayang itu akan datang.”

“Kamu yang mendaftarkan mereka,” tebakku.

Kurasa dia sedang memandangi wajahku. Aku tidak berani menoleh. Aku tidak ingin merasa menghambat dan menahannya di sini sekalipun sebenarnya aku bisa melakukan dan begitu ingin menahannya.

“Ernst, kalau kamu berkenan, aku akan memasukkan namamu ke daftar penjemputan 2 minggu lagi, bersamaku dan seorang teman dari menara 25. Kamu tidak akan jadi 50 orang terakhir yang tinggal di bumi kan?”

Rongga dadaku memanas. Aku punya alasan yang cukup besar untuk membuat wajahnya babak belur, namun aku menahan diri. Bukan karena dia saudaraku, tapi karena langit sedang menayangkan pertunjukan kembang api yang meriah luar biasa.

“Lihatlah, kembang apinya sangat indah. Kali ini mereka bekerja dengan sangat keras.”

Lalu, sayup-sayup terdengar takbir kemenangan dari rekaman suara yang diputar di masjid melatarbelakangi malam hari raya ini. Aku khawatir, jika aku pergi, tidak akan ada lagi orang yang merayakan hari-hari insidental seperti ini sebab ini bagian dari program divisiku.

Maka, aku menjawab dengan lembut, “Jangan pernah daftarkan namaku, Nyck,” di sela-sela puncak pertunjukan. Kulihat wajah Nyck terpapar cahaya letupan kembang api. Dia tersenyum dan tentu saja tidak dengar apa yang barusan kukatakan.


Solo. Sebentar lagi aku pulang, Bu. Tunggu anakmu.

Iklan

24 thoughts on “Orang-Orang Yang Menetap

  1. Gara berkata:

    Selalu ada harapan untuk orang-orang yang bertahan ya, Umami. Ini keren, pas banget dengan perjuangan di bulan Ramadhan untuk meraih kemenangan di Idul Fitri nanti. Settingnya juga vivid bagi saya, dystopia begitu, keren, keren banget. Dan yap, saya pun tak sabar untuk segera pulang mudik! :hihi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s