Menimbang Badan

Sebagai pembuka, basa-basi dulu (eyah). Di penghujung usia 21 ini, saya lebih sering menjadwal ulang kegiatan harian (daily activities planning) dalam sebuah buku jurnal berukuran besar. Dibanding me-list jadwal harian tsb di smartphone atau gadget, menulisnya dengan pulpen di kertas lebih membekas di benak. Selain itu, kecenderungan saya  sebagai makhluk yang suka menunda-nunda pekerjaan bisa lebih terminimalisir  perbuatan pelanggarannya setiap kali melihat buku itu dan teringat hal yang mesti saya selesaikan.

Membuat posting ini juga bagian dari things to do saya (aduh, ketahuan 😛 ). Saya menjadikan ini sebagai postingan ringan, tentang menimbang badan.

menimbang badan

‘Timbangan Badan’ – dari sini

Tahu alat ini, kan? Saya menyebutnya timbangan badan. Sering ditemukan di tempat praktik atau rumah dokter keluarga, di apotek, dan di area rumah sakit. Bagi kalian yang sudah punya sendiri di rumah, tentu tidak seheboh teman-teman saya (termasuk saya, ding) ketika ketemu sama benda ini.

‘Wih, ada timbangan di pojokan, tuh!.’ Sambil jalan, terus dengan pedenya berdiri di timbangan.

‘Gantian, dong.’

timabangan badan

sengaja pilih kaki cewek biar apa gitu

Hayo, siapa yang enggak penasaran dengan perubahan berat badannya?

Kami tidak punya jadwal khusus untuk mengecek berat badan, seperti beberapa orang di sana. Jadilah, sewaktu menimbang terasa sekali perubahan berat badannya (itu kalau sudah lama sekali tidak menimbang). Ada yang seneng berat badannya naik, ada pula yang seneng berat badannya turun.

‘Wah, timbangannya rusak nih,’ kata temen saya yang masuk golongan di atas rata-rata, yang berat badannya enggak turun-turun, dan malah cenderung naik, #Oops!

‘Alhamdulillah turun,’ kata temen saya yang berjuang diet. Katanya turun sedikit itu sangat susah, sementara untuk naik (banyak) sangat mudah, jadi waktu turun harus bersyukur.

‘Lumayan naik.’ Nah itu saya. 😀 Saya berada di golongan yang kepengin nambah isi badan, biar atletis gitu, 😀 *jangan pikir macem-macem*.

Makanya ketika ada temen yang mau ke apotek, kepengin ikut itu hal yang wajar. Yah, dengan berkedok nemenin, kita berkesempatan mengecek perubahan berat badan *agak peres dikitlah*.

Nah, kalau udah lamaaa banget enggak nimbang-nimbang, harus pinter cari cara buat bisa dateng ke apotek. Beli vitacimin, atau minyak kayu putih, atau beli amoxicilin buat persediaan bisa jadi solusi. Atau misal udah bingung banget mau beli apa, beli aja tolak angin, atau masker, atau gloves sepasang (lumayan buat praktikum di lab.)

Entah kenapa temen-temen enggak ada yang kepikiran buat beli itu timbangan badan, padahal harganya enggak mahal kok. Yang murah-murah juga banyak. Saya lirik di tokopedia, harganya dimulai 75ribu-200ribuan. Barangkali emang sebenernya enggak terlalu perlu benda ini di kosan kali ya, ntar ujung-ujungnya cepet rusak. Soalnya yang ditimbang enggak cuma berat badan (manusia), tapi apa aja. Bisa-bisa kucing yang sering lewat di depan kosan ditimbang. Lagi pula dengan cara seperti tadi di atas, kami tetep bisa mengecek berat badan, dong ya?

Tapi kok, dari bisik-bisik, temen saya kayaknya ada yang pengen punya timbangan badan. Itu, dia yang lagi program sama herbalife, buat nurunin bebe. Saya hanya turut mendoakan aja, deh.

Sementara itu, berapa berat badan anda? *eh* Sudah idealkah? Kepengin naik apa turun?

Ini bukan solusi tapi curahan hati. 🙂

Iklan

32 thoughts on “Menimbang Badan

  1. Gara berkata:

    Kebetulan di kantor saya sudah ada timbangan badan jadi di kosan kayaknya tidak terlalu perlu. Lagipula saya tidak terlalu terobsesi dengan berat badan yang harus sekian sih ya, jadi berapapun ya disyukuri saja asal tidak “keterlaluan”. Kan kata orang, yang penting sehat.
    Cuma ya itu, saya akhir-akhir ini jarang olahraga, jadi sepertinya masalahnya di sana… *malah ikutan curhat*.

    Suka

    • rizzaumami berkata:

      Tapi, terkakhir lihat fotomu kayaknya kurusan deh, Gar 😀 Hehe. Enak tuh di kantor, bisa sesuka hati kalo pengen nimbang. Tapi kalo sering banget kayaknya kebangetan, ntar dibisik-bisikin temen kerja.

      Suka

  2. dani berkata:

    berat badan guweh sudah jauh melewati angka 70. *sigh!
    Di rumah ada timbangan badan digital kado kawinan. Jadi ya kalo mau nimbang tinggal naik. Cuma ya itu, turunnya langsung ketambahan beban pikiran *100%curhat

    Suka

  3. Wida Zee berkata:

    Hahaha kalau nemu benda itu rasa kepo aku kumat pasti aja pengen di timbang badan meskipun berat badan udah pasti segitu-gitu aja siapa tau pas di timbang berat badan saya jadi turun biar terlihat makin ideal gitu wkwkwk 😀

    Disukai oleh 1 orang

  4. aqied berkata:

    beratku dari lulus SMA sampe skarang masih sama. tapi entah kadang orang komen di poto gendutan lah, kurusan, lah. mgkn itu tipuan kamera. wkwkwkwk
    awalnya punya timbangan di sini buat nimbang koper tiap mau mudik atau pergi2, biar gak over bagasi. hihihi. tapi jd sering nimbang juga sik

    Disukai oleh 1 orang

  5. BaRTZap berkata:

    Kayaknya kebanyakan, hubungan kita dengan timbangan badan itu benci tapi rindu ya? Suka males sama timbangan, tapi juga penasaran kalau belum nimbang badan, apalagi kalau memang lagi ngarep berat badan naik atau turun. Tambahan dari saya sih, liat juga penampakan kita di cermin, karena berat badan yang disusun berdasarkan proporsi otot dan lemak yang pas itu pasti enak dilihat, daripada yang didominasi oleh salah satunya saja 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s