Mr. Sing

Masa-masa paling canggung dalam hidupku terjadi akhir-akhir ini. Sebagai tetangga baru mereka aku merasa perlu mengakrabkan diri. Setidaknya setiap hari berkunjung ke rumah orang yang berbeda. Kuharap, dengan begitu mereka akan mempertimbangkanku sebagai tetangga yang ideal dan tepat diajak kompromi.

Tadi adalah tetangga ke 20 yang aku datangi selama menetap di kompleks ini.

“Jangan sekali-kali masuk rumah Mr. Sing, Fred. Aku memperingatkanmu. Apa tetangga sebelah rumahmu–Oh, siapa namanya?–Ya, Mr. Judy, belum bicara soal ini?”

Setelah itu, muncul cerita menyeramkan  dari mulutnya. Aku mendengarnya dengan amat jeli, takut kehilangan satupun detail.

Pagi ini, rutinitas jalan pagi yang dulu sering kulakukan di rumah lama mulai kuterapkan di sini. Udara pagi seringkali membuatku bersemangat. Aku mengelilingi jalanan kompleks sekali putaran selama setengah jam sebelum mandi lalu berangkat kerja.

Aku melewati rumah itu. Di gerbang besinya masih tergantung papan dekil bertuliskan ‘DISEWAKAN’, ‘Hubungi …’. Lalu, muncul seseorang dari balik pintu. Mungkin dialah Mr. Sing. Ia adalah pria tua, bahkan sangat tua kukira. Aku tidak berani mendekat. Aku hanya sebentar mengamatinya. Ia membawa sebuah tongkat di tangan kiri, dan sebuah mug berukuran besar di tangan kanan.

Apa tadi dia tersenyum padaku? Aku buru-buru memercepat langkahku.

Hari berikutnya, aku melewati rute lari yang sama. Entah kenapa aku merasa penasaran dengan kehidupan Mr. Sing. Sepertinya ia memang tinggal seorang diri di rumah itu.

“Hallo, neighbor!”

Apa dia menyapaku? Aku melambatkan langkah kaki, lalu menoleh sebentar padanya. Ia tengah tersenyum. Aku refleks membalas dengan senyum kecil. Kenapa ini?

Hari berikutnya, dan berikutnya lagi, kejadian yang sama terulang. Ia menyapaku dengan cara yang sama. Akhirnya aku berani membalas sapaannya.

“Hi, Mr.” Lalu menjadi, “Hi, Mr. Sing!” Kuharap itu tidak terlalu berlebihan. Awalnya memang cukup menyeramkan bahkan hanya untuk memanggilnya dengan Mr. saja. Namun akhirnya aku menambahkan nama aslinya.

Hari berikutnya, aku sengaja memelankan langkah kaki setiap melewati rumah Mr. Sing.

“Hi, saya belum tahu nama Anda, mampirlah ke sini.”

“Sorry, Mr. Saya harus berangkat kerja sejam lagi. Mungkin besok Minggu pagi. Well, Mr. boleh panggil saya Fred.”

“Nice to know you, Fred.”

Mereka, tetangga-tetanggaku, akan memperingatkanku seandainya tahu kejadian ini. Namun, Aku tidak ingin mereka tahu.

Minggu pagi tiba. Dan semestinya Mr. Sing sudah duduk di depan rumahnya, menantiku seperti biasa. Ke mana perginya orang tua itu?

“Hai, Fred.” Seseorang memanggilku. Aku menoleh.

“Sekarang tempat ini lebih aman. Tadi malam polisi menangkap orang tua itu,” katanya.

Aku belum mengerti hingga melihat garis kuning polisi di pintu rumah Mr. Sing.

Iklan

7 thoughts on “Mr. Sing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s