Review Film Merry Riana

image taken from 21cineplex

image taken from 21cineplex

Bintang 4/5. Untuk skala film Indonesia. Good job!

Film ini saya tonton dengan 2 orang teman (Insya Allah sesama jomblo kalau mereka enggak bohong). Awalnya saya selalu berpikir ulang untuk menonton film Indonesia yang satu ini. Namun, karena banyak teman yang bilang bagus, akhirnya saya niatkan untuk nonton di XXI Solo Square.

Ngomong-ngomong soal harga tiket bioskop di Solo, harga tiket di SS lebih mahal dibanding XXI yang di The Park Mall. Untuk hari normal, SS menghargai 25rb sementara The Park Mall 15rb. Padahal, berdasarkan pengamatan saya pada kualitas kursi dan layar lebarnya, lebih mending The Park Mall. Yah, lantaran sebagian teman-teman yang lain kepengin nonton Assalamualaikum Beijing sementara di The Park Mall enggak ada, jadinya kami ke SS lalu beli tiket untuk dua studio berbeda. Well, teman tetap segalanya kalau urusan nongkrong seperti ini.

Nah, saya ingin mereview film yang barusan saya tonton ini. Sinopsisnya singkat saja. Semua orang di Indonesia sepertinya tahu siapa Merry Riana, sang motivator, mahasiswa yang pada usia 26 tahun berhasil memperoleh 10.000 dollar pertamanya. WOW! Ceritanya, sesudah lulus SMA, Merry yang diperankan oleh Chelsea Islan terpaksa minggat seorang diri ke Singapura untuk menemui om-nya yang seorang manajer perusahaan. Waktu itu terjadi kerusuhan di Indonesia, sekitar tahun 90-an, kerusuhan etnis China. Rumah orang-orang China dirusak, dibakar, dan dirampas isinya. Di awal film, perjuangan Merry untuk bisa membeli tiket setelah semua barangnya habis dijarah sangat mengharukan.

Singkat cerita, Merry sampai di Singapura, meninggalkan keluarganya di Indonesia. Sialnya, om-nya yang katanya manajer perusahaan itu ternyata sudah bangkrut dan tidak bisa dihubungi lagi. Jadilah Merry hidup sebatang kara tak tahu arah dan tujuan di Singapura dan hanya berbekal baju, surat-surat semacam ijazah SMA, dan laptop ayahnya. Ia bingung harus pergi ke mana sementara ia hanya punya 30 dollar (sepenglihatan saya) di dompetnya.

Singkat cerita (lagi), dia menemukan teman SMA-nya yang kuliah di Singapura lewat facebook, namanya Irene, diperankan oleh Kimberly Rider (sumpah! Tinggi dan cakep banget!). Sesuai saran Irene, akhirnya ia mendaftar di universitas yang sama, berbagi kamar untuk berdua, dan biaya hidup Merry masih ngutang dulu dari kampus. Dan untuk urusan loan mahasiswa seperti itu, harus ada guaranter-nya, yang menjamin ia akan melunasi semua hutangnya sebelum wisuda kelak. Ia diperkenalkan dengan Alva (mahasiswa tingkat atas), diperankan oleh Dion Wiyoko, yang menjadi guaranter-nya. Setelah melewati konflik yang begitu kompleks antara Merry yang kesulitan mencari pekerjaan, Irene, dan hubungannya dengan Alva, akhirnya ia berhasil lulus dari universitas tersebut. Singkat cerita (lagi), sukses!

Film ini settingnya kebanyakan di Singapura. Tidak seperti film Assalamualaikum Beijing, menurut saya, film ini berani mengambil sudut shoot yang bagus, tidak terkesan travelling. Yah, mungkin jika dibanding China, Singapura lebih mudah dikompromi (pendapat ngaco, jangan dipercaya).

Saya suka dengan adegan di tempat umum yang banyak melibatkan figuran. Dan english khas melayu dan china terlihat sangat menarik bagi saya. Top. Aksen-aksen melayu dan asia diucapkan dengan pas oleh pemerannya.

Setelah menonton film ini, ada beberapa hal baru yang saya dapat dan itu berarti buat saya. Ada aturan ketat di universitas tertentu di Singapura yang melarang mahasiswa menginapkan orang asing, bahkan jika itu memang temannya sendiri. Risikonya adalah peringatan, lalu drop out. Ada lagi yang unik, memperkerjakan pelajar termasuk mahasiswa adalah perbuatan ilegal. Jika seseorang ingin bekerja ia harus punya surat izin kerja resmi. Salut sekali dengan aturan Singapura yang ini.

Akting Chelsea Islan sebagai Merry Riana sangat bagus. Dia mampu memerankan seorang perempuan yang gigih, ambisius, namun tetap memiliki sisi lemah. Saya akui, Chelsea Islan berhasil memerankan Merry Riana dalam film ini. Hanya saja, saya sering ilfeel setiap kali lihat Chelsea nangis. Sumpah! Enggak enak dilihat. Kenapa tiba-tiba (sorry, dear) wajahnya jadi nakutin kalau nangis ya? Apa semua cewek kayak gitu?

Akting Kimberly Rider, tidak perlu diragukan lagi. Bagus. Pokoknya cantik deh. Saya suka aksen english-nya.

Dion Wiyoko memerankan Alva juga sangat pas. Dia berhasil memperlihatkan sosok pria yang peduli, tegas, berprinsip, dan pintar.

Secara keseluruhan akting yang diperankan oleh semua artis di film ini cukup bagus. Selain ketiga tokoh tadi, saya justru suka pada pemeran Mrs. Noor. Aksen campurannya lucu dan menghibur. Juga pemeran manajer MLM. Dan yang terakhir adalah pengelola Singapore Flyer, seorang bencong yang tergila-gila drama. Lucu dan sangat menghibur.

Setelah film berakhir, ditampilkan foto-foto Merry Riana dan teman-temannya yang asli. Namun yang masih saya tanyakan adalah di manakah 10.000 dollar pertama Merry Riana? Bukankah yang digembar-gemborkan ketika film ini keluar adalah ‘mimpi sejuta dollar’-nya? Namun, di akhir tidak ditunjukkan bagaimana akhirnya Merry Riana mampu mengumpulkan 10.000 dollar itu. Justru yang ditekankan dalam film adalah bagaimana jatuh-bangun seorang Merry Riana dalam berjuang menghidupi dirinya selama di Singapura, dan uang-uang yang diperolehnya, sepenghitungan saya belum sampai 5.000 dollar.

Memang sih, tidak harus detail soal jumlah uang itu. Namun, fakta 10.000 dollar pertama yang diperoleh seorang mahasiswa 26 tahun telah begitu melekat di benak orang-orang, sehingga film ini harusnya tidak jauh-jauh dari fakta tersebut.

Akhir kata, buat kamu yang butuh motivasi, inspirasi, ‘cara dapat uang’ dan bagaimana memposisikan uang dalam hidupmu, serta kisah cinta, silakan tonton film ini. Lucu, sedih, inspiratif, jadi satu. Salut sama Hestu Saputra, sang sutradara, dan Merry Riana sendiri, sang pemeran di dunia nyata. Kalian hebat! (kamu juga).

Iklan

4 thoughts on “Review Film Merry Riana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s